Tuesday, December 22, 2009
[TDJarkom2009][Final][0906503805-Jan Peter Alexander] JP09
Paper Jarkom final. Disertakan berkas PDF dan berkas ODF asli dengan menggunakan standar IEEE.
Wednesday, December 9, 2009
[TDJarkom2009][Sesi10][0906644505-Ricky Suryadharma] Hansen06, Storz06
[category TDJarkom2009]
[title Ricky Suryadharma (0906644505) - Hansen06, Storz06
Judul paper:
Moving Out of the Lab: Deploying Pervasive Technologies in a Hospital
Penulis paper membahas mengenai penerapan teknologi pervasive yang dirancang mereka di sebuah rumah sakit dengan maksud agar teknologi pervasive tidak hanya berada dalam lab penelitian dengan lingkungan yang ideal, tetapi juga dapat dilihat penerapan dan masalah-masalahnya di lingkungan yang nyata. Teknologi pervasive ini dikembangkan dalam waktu yang lama dan melibatkan sejumlah tenaga medis di rumah sakit sebagai penggunanya untuk membantu mengenai kebiasaan atau masalah yang ada yang berhubungan dengan medis atau pun standar-standarnya. Teknologi jaringan yang dipakai untuk mengetahui keberadaan orang adalah Bluetooth, sedangkan jaringan antar komputer dinding diusahakan menggunakan kabel walau terdapat standar yang tidak memperbolehkan adanya kabel di lantai terutama di ruang operasi.
Beberapa kekurangan masih terdapat dalam penerapan teknologi pervasive tersebut. Model atau lingkungan yang digunakan untuk penerapan hanya untuk rumah sakit tertentu sehingga teknologi ini belum dapat diterapkan untuk rumah sakit secara umum - merupakan salah satu kekurangannya. Kekurangan yang lainnya, walaupun telah didaftarkan pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah yang muncul di dunia nyata mengenai teknologi pervasive, hanya beberapa yang dibahas di dalam paper. Selain itu, teknologi Bluetooth yang digunakan pun hanya mempunyai jangkauan 10 meter, mengenai bagaimana cara untuk mengirim atau menerima informasi di luar jangkauan itu tidak dijelaskan dengan detail (apakah di titik-titik tertentu terdapat node-node yang dapat saling menerima atau mengirim informasi sehingga masalah jangkauan dapat teratasi, mengingat rumah sakit yang biasanya berukuran besar). Selain mengenai teknologinya, kekurangan papernya sendiri (khususnya paper sejenis ini!) adalah tetap terdapat tulisan besar yang memotong di tengah pembahasan utama - hal ini sangat mengganggu dalam membaca paper. Walaupun dengan segala kekurangannya, penelitian ini sangat menarik karena bukan hanya merupakan rancangan/implementasi prototipe di dalam lingkungan ideal, tetapi diusahakan juga pengembangan dan penerapannya di dunia nyata setidaknya dalam paper ini di rumah sakit.
Judul paper:
Public Ubiquitous Computing Systems: Lessons from the e-Campus Display Deployments
Penulis paper membahas mengenai pelajaran-pelajaran yang dapat diperoleh dari penerapan tampilan e-Campus khususnya mengenai sistem komputasi ubiquitous yang umum. Pelajaran-pelajaran yang ada meliputi kondisi nyata sistem yang ternyata berbeda sekali dengan kondisi ideal di mana kejadian atau masalah bisa saja muncul pada kondisi nyata, sedangkan pada kondisi ideal tidak. Masalah yang dimaksud termasuk perangkat keras dan perangkat lunak. Selain itu, dibahas juga masalah nonteknis seperti perizinan, biaya, pandangan orang lain terhadap sistem, dan sebagainya. Pelajaran-pelajaran tersebut dibahas satu per satu secara detail. Dengan adanya pelajaran tersebut dan pembahasannya diharapkan orang-orang yang akan menerapkan sistem komputasi ubiquitous dapat belajar dari kesalahan yang ada dan dapat mengatasi masalah yang mungkin sama.
Pelajaran yang disuguhkan sangat menarik karena terdapat masalah teknis dan nonteknis. Akan tetapi, masih terdapat kekurangan seperti masalah jaringan yang belum terlalu dibahas. Selain itu, sistem yang dirancang dan merupakan bahan pelajaran masih cukup sederhana walau sudah pada kondisi nyata sehingga masih banyak lagi pelajaran yang belum tergali mengenai sistem komputasi ubiquitous pada kondisi nyata.
[TDJarkom2009][Sesi10][0806444676-Rudi Airlangga] Hansen06, Storz06
| [category TDJarkom2009] [title Rudi Airlangga (0806444676) - Hansen06, Storz06] Moving Out of the Lab: Deploying Pervasive Technologies in a Hospital [hansen06] Paper ini memaparkan tentang implementasi pervasive system iHospital kedalam dunia nyata, bukan hanya di lingkungan penelitian. Suka duka dalam penerimaan sistem tersebut kedalam masyarakat kedokteran, penempatan dan jenis piranti keras, arsitektur sistem dan fitur yang disediakan di sistem, modularity system dan updating system merupakan aspek-aspek yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang baik. Decoupling pada masing-masing modul, layer dan tier dalam sebuah sistem software sangat membantu modularity yang masing-masing bergantung tapi minimum satu sama lain, sehingga dalam memperbaharui 1 fitur hanya perlu memperbaharui bagian itu saja dan apabila terjadi error hanya akan terjadi error pada bagian tersebut saja. Metodologi pengembangan juga mempengaruhi kestabilan sistem dan dapat mengakomodasi keinginan pengguna dan dokter, seperti agile rapid development atau extreme programming merupakan metode yg cukup canggih. Yang tersulit dalam membuat suatu sistem adalah tepat mengena dengan keinginan pengguna, apa-apa saja fitur yang ingin dan dapat diautomasisasi sehingga memerlukan interaksi pengguna lebih sedikit iterative requirement engineering dan analisis harus dilakukan secara intensif, sehingga menjamin pengguna puas dan menggunakan sistem yang telah dibuat. Akan sangat membuat para pembuat ini berbahagia apabila sistem yang telah dibuat akan berguna dan dipakai sebelum nantinya akan diganti dengan yang lebih baru. Penerimaan dalam dunia nyata dapat saja sulit ataupun mudah tergantung dari latar belakangnya, mungkin diperlukan guidance dan pelatihan-pelatihan yang diadakan agar semua pengguna atau setidaknya pengguna vital menggunakan sistem secara maksimal. Faktor lingkungan dan infrastruktur yang dianalisa sangat berpengaruh terhadap kestabilan dan penggunaan maksimal sistem, seperti analisa jaringan yang baik dan hemat menghindari koalisi dan induksi listrik/ magnet, penempatan piranti keras yang sering dilewati dan mudah terjangkau, dan analisa frekuensi dan band, dinding dan pondasi juga diperlukan untuk jaringan wireless. Begitu pula dengan perilaku pasien dan orang-orang sekitar, apakah perlu pengamanan terhadap vandalisme, dan lain-lain. Lessons from the e-Campus Display Deployments [storz06] Penulis ingin berbagi pengalaman implementasi komputer ubiquotus sistem, e-campus display deployment. Terdapat 13 point yang digarisbawahi yang sebagian besar didominasi oleh deployment, content dan maintenance. Yang terpenting adalah bagaimana cara penerimaan teknologi yang ditawarkan kepada masyarakat, perilaku dan reaksi mereka setelah adanya sarana yang telah di deploy. Teknologi akan berkembang dengan pesat apabila masyarakat dapat menerima dan memanfaatkan teknologi tersebut, dan dengan adanya dukungan besar dari investor-investor yang ingin mendapatkan keuntungan dari pemanfaatan teknologi tersebut. Paper ini dapat dijadikan sebagai sebuah referensi yang cukup baik untuk implementasi teknologi ubiquitous dan bahkan menjadi pertimbangan pada tahap desain dan requirement pengembangan piranti lunak, sehingga didapatkan hasil yang optimal dari berbagai sisi. |
[TDJarkom2009][Sesi10][ 0806444732-Yana Adharani] Hansen06, Storz07
Paper ini menceritakan mengenai penggunaan teknologi pervasive di rumah sakit untuk membantu pekerjaan di ruang operasi dan ruangan lainnya yang berhubungan seperti ruang pemulihan dan ruangan pasien yang sedang menunggu untuk melakukan operasi yang diberi nama iHospital system. Terdapat banyak hal yang dapat dilakukan sistim ini seperti melakukan penjadwalan, memonitor aktivitas di ruang operasi, dapat melakukan proses pencarian, dapat mengupdate informasi terbaru jika terjadi perubahan, melakukan komunikasi tanpa mengganggu proses opersasi dan lain sebagainya.
Perangkat yang digunakan dalam iHospital ini diantaranya adalah media awareness, aware phone, dan bluetooth. Media awareness terdiri dari video stream, rogress bar untuk melaporakan setiap perubahan, chat area untuk berkomunikasi, schedule digunakan untuk menunjukan jadwal operasi berikut perubahannya serta sistim pencarian lokasi. Bluetooth digunakan untukmelakukan pencarian. Bluetooth ini dipasang pada setiap perangkat dari sistem dan juga dipasang pada chip dan mobile yang digunakan oleh dokter, staf rumah sakit maupun pasien.
Sistim ini sangat berguna jika dapat diimplementasikan pada rumah sakit-rumah sakit secara keseluruhan. Sebagai contoh jika ada pasien gawat darurat yang baru datang dan harus dioperasi maka perawat tinggal melihat di layar yang tertera pada dinding ruang operasi mana yang kosong dan mencari siapa dokter bedah yang sedang tidak melakuakn operasi. Sistim juga secara otomatis akan mengirimkan informasi kepada pasien yang sebenarnya sudah mempunya jadwal operasi dan memberitahu bahwa operasinya tertunda karena ada pasien lain yang kondisinya gawat.
Hal tersebut sangat memudahkan dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan karena tindakan yang dilakukan dapat lebih cepat. Akan tetapi sistim ini memiliki kelemahan karena pelacakan lokasi hanya dapat dilakukan pada jarak maksimum 10 meter. Padahal mobilitas dari tenaga kesehatan tentunya akan sangat tinggi. Bayangkan saja jika rumah sakit yang digunakan adalah rumah sakit besar maka sistim tidak dapat mendeteksi keadaan pasien dan petugas kesehatan padahal mereka masih berada di lingkungan rumah sakit. Sebagai solusinya mungkin dapat dimanfaatkan active RFID yang memiliki kemampuan pencarian dengan jangkauan yang lebih luas. Selain itu kelemahan dari paper ini adalah tidak menceritakan secara detail bagaimana sistim tersebut bekerja. Kelemahan lainnya adalah sistem tidak dapat menentukan dokter mana yang memang spesialis untuk menangani suatu kasus tertentu (pemilihan dokter dilakukan oleh tenaga kesehatan/ perawat yang bertugas secara manual)
Public Ubiquituous Computing System: Lessons from the e-Campus Display Deployment (Storz06)
paper ini menceritakan tentang pelajaran yang dapat diambil pada saat membuat large-scale networked display yang disebarkan di tempat-tempat umum yang berbeda sehingga nantinya dapat menjadi masukan untuk peneliti lain yang ingin mengembangkan eksperimen yang serupa. Pelajaran yang dapat diambil adalah:
- penyebaran display memerlukan biaya yang cukup tinggi
- diperlukannya pemeliharaan sistem setelah dilakukan penyebaran display
- Lokasi penyebaran dan sistim yang digunakan harus sesuai dengan pertaturan yang berlaku
- Keberadaa display tersebut harus dapat dimonitor dari jarak jauh
-penggunaan content juga memerlukan biaya yang cukup besar
- harus dapat memanage asset yang kita miliki diantaranya adalah aspek keamanan, dsb
[TDJarkom2009][Sesi10][0906644524-Abdul Arfan] Fleck02, Parikh05
[title Abdul Arfan (0906644524) - Fleck02, Parikh05]
Ubiquitous Systems in Interactive Museums
Musium merupakan tempat untuk menimba ilmu yang dapat juga berfungsi
sebagai sarana hiburan yang memiliki ciri khas dalam penyampaian
informasi kepada pengunjung. Pengunjung yang mendatangi musium dapat
melihat benda-benda atau koleksi-koleksi museum dan mengambil
informasi dari sana berupa tulisan, gambar, suara, ataupun video.
Karena sifat museum sebagai sarana informasi yang seperti itu maka
teknologi ubiquitous computing menjadi relevan untuk digunakan di
dalamnya. Teknologi ini diharapkan dapat memudahkan pengunjung dalam
menerima informasi dan berinteraksi dengan koleksi-koleksi yang
terdapat pada musium. Efek yang diharapkan supaya penggalian informasi
dari koleksi-koleksi pada musium menjadi semakin menyenangkan dan
lebih dapat menarik minat para pengunjung.
Permasalahan timbul jika penggunaan teknologi pada penelusuran musium
dapat mengalihkan perhatian pengunjung dari koleksi museum ke
teknologi itu sendiri. Hal ini tentu tidak diharapkan dan dapat
merusak kesenangan berkunjung ke musium. Untuk menghindari hal ini
maka teknologi yang digunakan harus dibuat tidak terlihat atau hampir
tidak terlihat, sehingga perhatian pengguna tetap pada koleksi musium.
Contoh teknologi yang dapat dipakai dan tidak terlihat adalah
penggunaan RFID. RFID digunakan untuk melakukan pencatatan terhadap
koleksi-koleksi musium yang dikunjungi oleh pengguna. Hasil pencatatan
ini juga dapat digunakan untuk informasi pada website musium. Hal ini
akan menambah daya tarik masyarakat terhadap musium tersebut. Selain
itu, hasil pengambilan informasi dapat dijadikan suatu kliping yang
terdapat pada sebuah sistem yang dapat diakses langsung oleh
pengunjung musium. Pengunjung akan mendapatkan seluruh informasi tanpa
takut akan melewatkan hal-hal yang justru sebenarnya penting pada
musium yang dikunjungi.
Penerapan teknologi pada musium merupakan sebuah langkah maju dalam
dunia pendidikan. Dengan adanya teknologi semacam ini diharapkan akan
menarik minat orang-orang untuk lebih mengunjungi musium dan menggali
lebih banyak informasi dari sana.
-----
Using Mobile Phones for Secure, Distributed Document Processing in the
Developing World
Penggunaan kertas sangat penting pada pemrosesan informasi di negara
berkembang. Kertas digunakan untuk mencatat, mengolah dan menyimpan
data yang sudah diproses. Tetapi penggunaan kertas dalam pengelolaan
informasi dapat menjadi tidak efisien dan tidak fleksibel karena
informasi yang tercetak pada kertas akan sulit dicari dengan cepat.
Penggunaan kertas juga akan mempersulit proses pengindexan dan
peringkasan informasi jika jumlah data terlalu banyak. Diperlukan
kerja keras untuk memproses data yang ada pada kertas untuk menjadi
informasi yang lebih bermakna.
Selain itu penggunaan kertas yang berlebihan juga dapat mengancam
lingkungan karena produksi kertas berasal dari pohon. Jika penggunaan
kertas tidak diminimalisir, maka penebangan pohon akan semakin gencar
dan lingkungan akan semakin rusak. Oleh sebab itu diciptakan teknologi
yang dapat menggantikan penggunaan kertas dengan tujuan efisiensi
proses pengolahan dokumen. Teknologi yang bernama CAM framework ini
selanjutnya diujicobakan pada orang-orang dari negara berkembang.
Teknologi ini berupa sebuah arsitektur layanan informasi yang
menggunakan smartphone sebagai alat utama. Smartphone dilengkapi
kamera yang dapat menangkap informasi dari form kertas. Selanjutnya
hasil tangkapan kamera tersebut dikirimkan ke server menggunakan
bluetooth atau MMS, lalu informasi tersebut diproses untuk nantinya
dikirimkan melalui internet atau mobile phone. Informasi ini dapat
juga langsung dicetak di printer.
Isu yang terkait dengan penggunaan mobile phone sebagai alat untuk
pengolahan dokumen adalah isu keamanan. Pengguna dari sistem ini akan
kesulitan jika harus mengingat password yang panjang dan terdiri dari
kombinasi karakter. Jika password yang mereka dibuat mudah diingat,
itu artinya password tersebut juga akan mudah untuk dilacak. Oleh
sebab itu, penggunaan token diperlukan supaya data-data tersebut tetap
aman pengiriman dan penyimpanannya dan tidak menyulitkan pengguna
untuk pengingat password.
Pengenalan teknologi pada negara berkembang diharapkan akan
meningkatkan laju perekonomian pada negara tersebut dengan melancarkan
proses bisnis yang biasa terjadi. Teknologi yang ada harus dapat
dimanfaatkan dengan mudah bahkan oleh orang yang kurang terbiasa
dengan teknologi. Diperlukan proses pelatihan yang intensif agar
penerapan teknologi ini dapat mempercepat dan mempermudah kegiatan
perekonomian di negara-negara berkembang.
[TDJarkom2009][Sesi10][0906503805-Jan Peter Alexander] French08,Hartung06
[title Jan Peter Alexander(0906503805) - French08,Hartung06]
[French08]
Seseorang dalam kursi roda mengalami hambatan dalam bergerak, terutama para penderita Spinal Cord Injury or Dysfunction (SCI/D). Aktivitas di kursi roda yang lama juga sering menyebabkan sakit. Hal ini diakibatkan oleh aktivitas dengan kursi roda yang statik menyebabkan ketegangan pada bagian tubuh tertentu dibandingkan dengan aktivitas tanpa kursi roda. Untuk itu, diperlukan sistem pelatihan Virtual Coach untuk membantu pengguna bergerak dengan benar saat menggunakan kursi roda.
Salah satu tantangan dalam pengembangan Virtual Coach (VC) adalah menentukan sikap pengguna secara umum ketika menggunakan kursi roda. Dengan menggunakan masukan yang sudah didapat, VC dapat menyediakan preferensi-preferensi gerakan yang diperlukan oleh pengguna. Selain itu, VC memiliki fungsi belajar yang menyesuaikan dengan pengguna.
Maka, rasanya penggunaan accelerometer saja kurang dalam meneliti pengguna. Salah satu solusi pembantu adalah dengan menempatkan sensor panas pada beberapa bagian di kursi roda. Beberapa teori akupunktur juga dapat diterapkan dalam penelitian ini untuk menentukan bagian-bagian yang perlu digerakkan dan titik-titik yang perlu digerakkan sehingga sebuah gerakan menjadi efisien dan minim cedera.
Penggunaan akupunktur sudah mulai dibakukan di dalam dunia kedokteran Barat. Ilmu tersebut dapat digunakan dalam menentukan stres pengguna dengan menggunakan titik-titik akupunktur. Dengan memadukan ilmu tradisional ini, bisa jadi VC dapat digunakan juga untuk melatih pemulihan dari trauma akibat kecelakaan agar seseorang dapat berjalan kembali. Hal ini dapat terjadi karena simulasi dan rangsangan dari sistem dapat dipakai untuk memacu pemulihan.
[Hartung06]
Penggunaan sensor untuk menentukan cuaca dalam rangka mencegah kebakaran dapat menjadi salah satu penjamin keselamatan penduduk sekitar. FireWxNet berusaha menjawab solusi tersebut dengan menyediakan jaringan antarsensori yang ada. FireWxNet menciptakan jaringan tersebut dengan sistem WAP, yakni teknologi nirkabel. FireWxNet menempatkan beberapa access point (AP) dalam membantu hubungan antar sensor dengan pusat pengolahan data.
Penggunaan teknologi WLAN sendiri merupakan salah satu sumber pemborosan baterai. Teknologi nirkabel yang lebih efisien dapat digunakan untuk menekan biaya penghabisan masa baterai. Salah satu yang bagus untuk itu adalah ZigBee. Selain itu, protokol yang digunakan dalam berhubungan juga dapat direduksi sehingga data yang dikirim memiliki header minimal.
Tantangan lain yang dimiliki oleh sensor-sensor ini adalah sifat mereka yang tidak alami. Penempatan sensor yang berlebihan dapat mencemari ekosistem hutan itu sendiri. Selain itu, penempatan sensor yang sedikit dapat mengurangi keakuratan data. Setiap sensor harus ditempatkan dengan jumlah proporsional. Untuk menambah keakuratan, FireWxNet dapat saja menggunakan data dari satelit sebagai data pembanding.
Konsep People Science juga dapat diterapkan dalam sistem ini, yakni mengundang partisipasi penduduk lokal. Dengan menyediakan sistem pelaporan terpadu, penduduk sekitar juga dapat menyediakan pelaporan dan data-data pembanding. Dengan demikian, selain sistem sensor ini, penduduk juga dapat menjadi bagian dari FireWxNet.
Melihat ilustrasi dari [Hartung06] dan kondisi hutan yang mudah terbakar, dapat diduga bahwa lingkungan FireWxNet memiliki akses terhadap sinar matahari. Maka selain penggunaan baterai yang hanya dapat bertahan 5 hari, sensor-sensor tersebut dapat menggunakan sel surya dalam mendapatkan sumber daya listrik.