[category TDJarkom2009][title Ananda Budi Prasetya (0906593435) fleck02,parikh05]
Artikel ini menjelaskan bagaimana menerapkan sistem yang ubiquitous di dalam sebuah museum untuk menciptakan hubungan yang interaktif antara pengunjung museum dan benda / objek-objek yang terdapat di museum tersebut. Sebelumnya dikatakan pada artikel ini bahwa penerapan E-Guide Books sudah banyak diterapkan di berbagai musium, akan tetapi fungsinya hanya sebagai pengganti buku panduan yang konvensional. Saat ini dilakukan riset yang mencoba untuk mengimplementasikan ubiquitous system atau disebut sebagai nomadic system pada artikel ini, yang digabungkan dengan E-Guide Books tadi untuk, dimana kita bisa mendapatkan informasi dan dapat mengingat / mencatat peragaan apa saja yang sudah kita kunjungi pada musium tersebut.
Hal ini didasari dari beberapa testing yang dilakukan mengenai perilaku pengunjung museum, seperti pengunjung selalu memperhatikan label pada suatu peragaan, selalu ingin mencari informasi mengenai peragaan apa saja yang terdapat pada musium tersebut, perilaku sosial seperti selalu ingin berbagi cerita dengan pengunjung lain mengenai peragaan yang sudah dikunjunginya, dan berbagai hal lainnya. Dengan adanya suatu infrastruktur yang mendukung nomadic system / ubiquitous system pada musium, dan menggunan device seperti PDA untuk mencatat seluruh informasi yang terdapat pada museum tersebut, suatu musium yang interaktif akan dapat diciptakan.
Eksperimen dilakukan dengan membangun infrasktruktur untuk mendukung ubiquitous system tersebut. Radio Frequency Identification (RFID) digunakan sebagai tag pada setiap peragaan yang terdapat pada musium tersebut. Kemudia PDA digunakan sebagai E-Guide Books yang dapat memberikan informasi mengenai musium tersebut dan dilengkapi dengan RFID reader untuk membaca tag RFID yang terdapat di setiap label pada setiap peragaan tersebut untuk mengingat / menyimpan informasi mengenai peragaan tersebut. Jadi PDA berfungsi sebagai pemberi informasi dan pengingat, dimana setiap kali pengunjung mengunjungin suatu peragaan, pengunjung dapat mencatat peragaan tersebut dari RFID yang tertanam pada label peragaan tersebut dan mencatatnya langsung ke dalam PDA yang disediakan sebagai pengingat bahwa dia sudah mengunjungi peragaan tersebut, dan informasi mengenai peragaan tersebut dapat dibuka kembali untuk didiskusikan sesama pengunjung, hal ini sesuai dengan social behavior yang telah diriset sebelum dijalankannya percobaan ini.
Komentar
Menurut saya ada cara lain ataupun tambahan dari cara diatas dalam membuat suatu musium yang interaktif, yaitu dengan menggunakan Augmented Reality.
Augmented Reality (AR)
AR adalah suatu lingkungan dimana kita menggabungkan dunia nyata dengan dunia virtual melalui media berupa kamera video. Saat ini berbagai portable device ataupun smart phone yang dikeluarkan telah memiliki kamera video, dimana melalui kamera tersebut yang menangkap gambar dunia nyata, kita dapat melihat gambar virtual yang tergabung (augmented) di dalam visual kamera tersebut.

Jadi, sesuai dengan paper diatas, kita dapat menambahkan teknologi AR ke dalam aplikasi E-Guide Books yang diimplementasikan ke dalam portable device yang memiliki video camera, kemudian portable device yang digunakan memiliki RFID reader yang dapat membaca RFID tag yang terdapat dalam setiap label peragaan, dengan menggunakan video camera tersebut, kita dapat melihat seluruh peragaan beserta label virtual yang terlihat dari kamera tersebut.
Tentunya hal ini menjadi lebih interaktif dan mempermudah pengunjung museum, karena mereka tidak perlu mendatangi satu per satu peragaan yang terletak berdekatan, cukup menjelajah melalui kamera sampai mereka menemukan peragaan yang cukup menarik perhatian mereka.
Using Mobile Phones for Secure, Distributed Document Processing in the Developing World by Tapan S. Parikh
Paper ini menjelaskan bagaimana dengan menggunakan built-in digital camera yang terdapat pada smart phone kita ( disebut dengan CAM ), untuk membaca barcode / penanda yang terdapat di dalam formulir pendataan kependudukan. Smart phone akan berfungsi sebagai middleware yang berfungsi sebagai scanner, user interface, network, cache, dan pre processor di dalam riset ini.
CAM akan berfungsi sebagai scanner, dilakukan dengan memfoto barcode yang terdapat pada setiap formulir, kemudian foto tersebut akan di process, dan didapatkan data mengenai data orang yang terdapat pada formulir tersebut, kemudian data tersebut akan dikirimkan ke dalam web server dan kemudian di proses lebih lanjut.
Framework CAM yang dijelaskan pada paper ini terdiri dari beberapa yaitu CAMForm applications yang merupakan suatu bentuk formulir secara fisik, yang memiliki penanda ataupun barcode dan dapat di scan oleh built-in camera pada device yang menerapkan CAM, CAMShell, bagian inti program dari sistem, dimana processing terhadap image yang ditangkap seluruhnya akan diproses pada bagian ini untuk diambil beberapa informasinya, dan yang terakhir adalah CAMBrowser yang merupakan user interface, dimana pengguna dapat memfoto CAMForm application kemudian akan di proses pada CAMShell, dan terakhir data tersebut dikirimkan ke dalam web server untuk proses pendataan penduduk lebih lanjut lagi.
Komentar
Saat ini, aplikasi ini sudah umum digunakan, bahkan banyak perusahaan yang membuat suatu piranti lunak yang dijual secara komersial ataupun gratis, yang dapat membaca barcode. Menurut saya, saat ini pengaplikasian bukan hanya saja dengan menggunakan barcode atau penanda lainnya. Berikut adalah cara-cara lain yang memungkinkan kita dalam mengirimkan data / dokumen melalui media mobile phones / smart phones.
Edge Detection
Cara lain menurut saya adalah dengan menggunakan metode dalam pengolahan citra, yaitu edge detection. Misalkan pada formulir aplikasi tersebut kita mendeteksi seluruh huruf yang tertangkap dalam foto menggunakan built in camera kemudian huruf tersebut akan dideteksi, dan informasi akan dapat kita ekstrak dari gambar yang terdeteksi tersebut, data tersebut di proses dan kemudian akan dikirimkan kembali ke server.
Salah satu aplikasi yang sudah dipasarkan yang menggunakan teknologi ini adalah What is the Font ?™, merupakan aplikasi iPhone, dimana kita dapat memfoto suatu tulisan pada dunia nyata, kemudian kita dapat mengirimkan foto tersebut ke server pusat mereka, dan kemudian server pusat setelah melakukan processing mengembalikan data berupa daftar font yang mirip dengan gambar font yang kita tangkap tadi. Bayangkan jika hal ini kita terapkan untuk mengambil informasi mengenai apa saja yang terdapat di dalam suatu formulir aplikasi ? tentunya merupakan hal yang sangat berguna sekali dan sangat mempermudah pengguna dalam mendaftarkan dirinya untuk data kependudukan.
RFID (Radio Frequency Identification)
Kita dapat menggunakan RFID pada formulir aplikasi sehingga kita dapat mendapatkan informasi dari formulir tersebut, hal ini dimungkinkan karena
saat ini hampir seluruh smart phone memiliki tools tambahan sebagai RFID reader, akan tetapi berarti kita tidak menggunakan media built-in camera yang terdapat pada smart phone yang kita gunakan. Setelah mendapatkan informasi tersebut, informasi akan dikirimkan ke dalam server pusat untuk diproses secara langsung.
Cara lain lagi adalah dengan menggunakan Smart Card, dimana data penduduk tersebut seluruh nya tercatat di dalam Smart Card tersebut, kemudian dengan menggunakan smart phone yang dilengkapi RFID reader kita dapat membaca dan menarik informasi tersebut, kemudian informasi tersebut kita kirimkan ke server dan di proses pada server tersebut.
--
Ananda Budi Prasetya
0906593435
Faculty of Computer Science University of Indonesia
phone: +62813-155-85791
e-mail:ananda.budi.p[at]gmail.com
No comments:
Post a Comment