[title Bayu Distiawan (0906644511) - Fleck02, Parikh05]
Museum adalah salah satu tempat yang cocok untuk menerapkan sebuah
ubiquitous system. Pada paper Ubiquitous System in Interactive Museums,
penulis paper Margaret Fleck menjelaskan sebuah sistem yang dipasang pada
exploratorium. Sistem tersebut merupakan pemandu bagi para pengunjung
museum. Sustem tersebut memberkan informasi yang lebih mendetail serta
dapat memberikan gambaran visual dari obyek yang sedang dikunjungi. Sistem
yang ada memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah sebagai pemberi
informasi, memberikan saran obyek mana yang harus dikunjungi berikutnya
yang masih memeiliki keterkaitan dengan obyek yang sedang dikunjungi.
Selain itu juga ada fasilitas untuk berkomunikasi secara interaktif
melalui bulletin board dan instant messaging.
Fasilitas yang cukup menarik dan masih dapat dikembangkan adalah fasilitas
communicator. Pada sistem yang ada sekarang masih terdapat banyak campur
tangan dari manusia dalam hal ini operator dari museum untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung melalui fasilitas instant messaging.
Mungkin saja dapat dikembangkan sebuah smart agent yang dapat menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari pengunjung. Dengan adanya smart agent tersebut
maka akan mengurangi campur tangan dari operator. Selain smart agent,
mungkin juga diperlukan semacam log yang dapat di download user untuk
mencatat hasil kunjungannya selama di museum.
Hal lain yang perlu diperhatikan dari sistem ini adalah skalabilitas dan
traffic dari layanan sistem tersebut. Berapa banyak pengunjung yang dapat
mengakses sistem tersebut dalam waktu yang bersamaan mengingat konten yang
disediakan cukup berat seperti video dan suara. Mungkin salah satu
pendekatan yang dapat dilakukan adalah membagi-bagi server yang ada
seperti memasang server untuk beberapa obyek sehingga informasi dari semua
obyek tidak diletakkan pada satu server yang sama, namun tentu saja hal
ini memerlukan biaya yang lebih besar dan maintenance yang lebih kompleks.
Paper kedua, Using Mobile Phones for Secure, Distributed Document
Processing in the Developing World oleh Tapan S Parikh ini menceritakan
mengenai visi untuk menggunakan mobile device untuk membantu
mengorganisasikan dokumen-dokumen yang masih paper based. Sistem ini lebih
ditujukan kepada daerah-daerah dimana orang-orang yang terdapat didalamnya
masih belum terlalu familiar dengan teknologi informasi. Oleh karena itu
dipilih handphone sebagai media untuk memproses dokumen-dokumen yang ada
karena antarmuka yang dianggap paling mudah dipahami.
Sistem ini bekerja dengan melakukan scanning dokumen yang ada menggunakan
kamera yang terdapat pada handphone yang hasilnya nanti akan
diinterpretasikan oleh CamShell. Disini permasalahan yang muncul adalah
hasil scan yang dilakukan kamera handphone merupakan sebuah image. Hal ini
menjadi kurang praktis jika pengguna ingin mengedit data yang telah di
scan oleh kamera tersebut. Solusi yang dapat ditawarkan adalah hasil
interpretasi oleh CamShell seharusnya dapat di proses kembali oleh
pengguna sebelum akhirnya dikirim ke server untuk disimpan dan dikelola.
Untuk meghasilkan hasil interpretasi yang baik dari CamShell tersebut,
maka diperlukan sebuah character recognizer agar terbentuk sebuah sistem
yang fleksibel. Namun, dengan menambahkan recognizer tersebut akan
meningkatkan biaya dan kompleksitas yang akan berimbas kepada kecepatan
layanan sistem ini.
No comments:
Post a Comment