Wednesday, December 9, 2009

[TDJarkom2009][Sesi10][ 0906503793-I Made Agus Setiawan] french08, hartung06

[category TDJarkom2009]

[title I Made Agus Setiawan(0906503793) - french08, hartung06]

Sesi 10

[french08] Towards a Virtual Coach for manual wheelchair users

Comment :

Pada paper ini,Brian French et al. memaparkan mengenai Virtual Coach, yaitu suatu sistem yang digunakan untuk membantu pengguna kursi roda manual dalam mengoptimalkan penggunaan kursi roda dan menghindari terjadinya cedera lengan akibat dari pola gerakan yang konstan terus-menerus dalam jangka waktu lama dengan cara menyediakan petunjuk /masukan terhadap pengguna bagaimana cara penggunaan yang dapat meminimalkan peluang untuk membuat lengan menjadi cedera.

Beberapa point yang dapat dicatat mengenai topik ini adalah;

1.      Seberapa besar pengaruh desain kursi roda terhadap peluang terjadinya cedera dalam penggunaan jangka waktu lama sehingga system ini digunakan? Jika optimasi desain digabungkan dengan automatic system maka akan dapat memberikan manfaat yang lebih baik.

2.      Hal ini erat kaitannya dengan tingkat ergonomic antar perangkat dengan pengguna. Seperti halnya bagaimana cara duduk pengguna computer terhadap letak monitor dan keyboard yang dapat membuat pengguna merasa nyeri, pegal dan bahkan dapat menyebabkan perubahan posisi tulang belakang. Jadi mungkin juga pendekatan ini nantinya bisa diterapkan.

3.      Kenyamanan? Karena system ini akan digunakan secara terus menerus, maka kenyamanan pengguna harus diperhatikan juga, karena hal ini sangat menentukan sekali. Bisa membantu pengguna tapi tidak nyaman mungkin akan menjadi persoalan dikemudian hari.

4.      Kualitas hidup suatu masyarakat merupakan hal yang sangat penting karena akan berimbas ke segala aspek kehidupan, hanya saja ada beberapa hal yang kadang memaksa masyarakat belum bisa sampai berpikiran kearah sana, yaitu masalah  kesejahteraan, seperti halnya di Indonesia. Mungkin untuk skala negara maju, hal ini sudah menjadi perhatian yang sangat penting, namun bagi sebagian masyarakat di indonesia, untuk dapat bertahan hidup saja sudah terasa cukup. Jadi seandainya teknologi ini dipergunakan di Indonesia, perkembangannya tergantung pada awareness masyarakat akan hal semacam ini.

  

[hartung06] FireWxNet: AMulti-Tiered Portable Wireless System for Monitoring Weather Conditions in Wildland Fire Environments

Comment : 

Pada paper ini Carl Hartung et al. memaparkan mengenai suatu system jaringan wireless yang dinamakan Fire Weather Network atau FireWxNet yaitu suatu system jaringan wireless yang digunakan untuk mendeteksi keadaan cuaca di dataran tinggi yang mengalami kebakaran hutan untuk mempelajari karakteristik dari api dengan menggunakan teknologi wireless sensor networks dimana cakupannya sangat luas, yaitu 160 km2.

Sistem ini dirancang dengan memperhatikan kebutuhan yang ada yaitu dapat memberikan informasi cuaca, suhu, kelembapan, kecepatan dan arah angin setiap ½ - 1 jam sekali selama 24 jam sehari, dapat memberikan informasi secara visual  di daerah dataran tinggi, penggunungan dengan tinggi yang bervariasi, dengan jarak yang jauh, dimana system harus dibuat sesederhana mungkin dan tangguh dengan biaya yang rendah serta mudah dibawa kemana-mana.

Dengan kebutuhan tersebut kemudian jaringan ini dirancang sbb; terdiri dari 5 links jarak jauh, 3 sensor networks yang terdiri dari total 13 nodes, 5 wireless access points dan 2 Web Camera. Karena kondisi lapangan yang sangat luas di hutan belantara, maka system jaringan ini dirancang secara berlapis agar bisa terhubung ke pusat control data. Dari pusat Kontrol data, jaringan terhubung dengan lapisan pertama berupa urutan wireless link dengan antenna berarah(directional) yang berjarak sekitar 3-50km (backhaul network). Setalah itu kemudian terhubung ke lapisan berikutnya yaitu weather network, yang terdiri dari sekumpulan sensor nodes dengan kemampuan wireless link sampai 400m. Dengan arsitektur seperti itu, kondisi cuaca di daerah kebakaran hutan dapat dimonitor dan karakter api dapat dipelajari lebih jauh.

Berikut beberapa point yang dapat dicatat dari topic yang dibahas pada paper ini;

1.      Pengaruh cuaca terhadap perangkat? Implementasi system di tempat yang terpencil, dihutan belantara yang sangat luas sekali dengan kondisi yang sangat tidak menentu harus direncanakan dengan sangat matang,  apalagi mengimplementasikan system monitoring berbasiskan teknologi wireless seperti ini, banyak yang harus dipertimbangkan seperti kinerja sensor, umur battery , dan efek dari cuaca terhadap perangkat yang dipakai, dimana terbukti bahwa hal ini tidak terpikirkan diawal perencanaan system ini.

2.      Maintenance? Begitu luas cakupan wilayah dengan kondisi lapangan yang berbukit-bukit, membuat perawatan menjadi hal yang sangat sulit. Bagaimana mekanisme backup seandainya sensor tidak bekerja dengan baik, atau koneksi terputus, seperti yang terjadi pada masa testing?  Atau bahkan akan menjadi korban dari kebakaran tersebut?  Apakah cek ke-lapangan kembali, dengan mempertimbangkan luas wilayah tersebut? atau ada mekanisme lain?

3.      Umur dari Sensor? Jika Basestation menggunakan sumber tenaga matahari, akan sangat membantu sekali karena di daerah seperti itu, energy listrik sangat susah didapat selain menggunakan matahari sebagai sumbernya. Namun beda halnya terhadap sensor node yang disebar? Jadi harus dipertimbangkan dengan matang akan hal ini, karena akan berimbas juga dengan perawatan.

4.      Dengan jumlah node yang disebar dibuat seminimal mungkin dengan cakupan yang luas juga selain menghemat biaya, juga memudahkan dalam melakukan perawatan, karena sebarannya terkumpul disekitar basestation, tidak terlalu menyebar.

5.      Dengan system ini, mungkin juga dapat diimplementasikan di Indonesia untuk mempelajari karakteristik kebakaran hutan meskipun tentu saja dengan tantangan yang sangat besar, mencakup luas wilayah dan tentu saja cuaca yang berbeda di daerah tropis.


I Made Agus Setiawan

---------------------------------

No comments:

Post a Comment