[category TDJarkom2009]
[title I Gusti Agung Gede Arya Kadyanan(906503780) – Stanford03a, Mosmondor05]
[Stanford03a]:
Berikut adalah beberapa hal yang dirasa perlu untuk diperhatikan berkaitan dengan paper "Pervasive Computing Puts Food on the Table" dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Adapun ide pokok dari paper ini adalah "caveat emptor" yaitu telitilah sebelum membeli!! Jadi seperti itulah kurang lebih ide utama dari paper ini dimana penulis berusaha mengimplementasikan pervasive computing pada sebuah restoran dan menggantikan daftar menu yang biasanya berupa kertas dengan sebuah PDA atau handheld. Dari PDA tersebut seorang customer dapat melakukan order dari sejumlah menu yang diinginkan. Tidak hanya itu, customer juga dapat menentukan jenis, rasa dan beberapa detil dari menu secara khusus lewat PDA tersebut.
2. Untuk di Indonesia sepertinya masih belum dapat mendukung sepenuhnya system seperti ini karena cost untuk pembelian perangkat, maintenance, jasa internet terkadang tidak sebanding dengan harga makanan dan keuntungan yang didapat. Jadi saya tidak sepenuhnya setuju apabila dikatakan dari sisi ownernya dapat menghemat biaya. Mungkin asumsinya bisa ditambahkan bahwa system ini sementara hanya diberlakukan di Negara si penulis saja.
3. Mengenai keamanan perangkat secara fisik akan sangat rentan terjadi kerusakan karena kena tumpahan dari makanan sehingga diusahakan agar perangkat tersebut dapat lebih tahan dari cairan, panas atau benturan.
4. Tampilan layar LCD dari PDA sangat kecil sehingga sangat sulit untuk mengoperasikannya, sehingga mungkin dapat dicarikan perangkat sejenis dengan ukuran layar yang relative lebih besar tetapi tetap dengan resolusi rendah atau monochrome sehingga dapat menghemat konsumsi batere.
5. Diusahakan agar secara tampilan dapat dibuat sesederhana mungkin dengan memperhatikan dampak psikologi user, seperti user friendly dengan memperhatikan GUI/HCI.
6. Harus disiapkan SDM yang benar-benar melek teknologi, sehingga tidak ada kesulitan yang berarti dalam implementasi.
7. Harus tetap disiapkan plan B untuk antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kegagalan jaringan, perangkat yang rusak, ketersediaan energi listrik dan segala sesuatu yang bersifat teknis lainnya. Dengan kata lain harus tetap menyediakan mekanisme manual agar ketika system terjadi trouble akan tetap dapat melayani pelanggan.
8. Untuk peningkatan jasa layanan mungkin pada nantinya layanannya tidak hanya untuk memesan menu yang sudah tersedia di menu list, tetapi dapat pula melakukan penyesuaian terhadap selera konsumen, mungkin bisa ditambahkan human attention disini dengan context aware application.
9. Untuk masalah disconnected sebaiknya mengadopsi CODA, sehingga walaupun koneksi wireless terputus namun system tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya.
10. Sangat diperlukan indicator-indikator yang bersifat real/nyata atau bersifat metafor, seperti petunjuk/state ketika seorang konsumen harus menunggu hidangan sekian menit lagi. Sehingga teknologi ini benar-benar meresap didalam lingkungan restoran tanpa konsumen tersadar akan hal itu.
[Mosmondor05]:
Berkaitan dengan paper "LiveMail: Personalized Avatars for Mobile Entertainment" dapat saya berikan sedikit komentar diantaranya:
1. Merupakan ide yang kreatif dengan mengusulkan suatu metode tampilan email dengan personalisasi wajah si pengirim.
2. Effort dalam hal resource tentunya juga akan meningkat berkaitan lebar bandwidth yang dibutuhkan, resolusi layar perangkat, dan konsumsi energi listrik, karena kita menampilkan dan mentransmisikan sebuah animasi dengan detil grafis yang tinggi.
3. Pesan ini setidaknya dapat dikirim berupa Animasi 3D atau berupa MMS, sedangkan kita ketahui bersama bahwa MMS gagal semenjak pertama kali dikenalkan ke public. Dikatakan gagal karena MMS kalah ngetren jika dibandingkan SMS. Sehingga dikhawatirkan produk ini akan gagal juga diterima oleh masyarakat indonesia.
4. Diperlukan teknologi yang canggih untuk face recognition untuk dapat benar-benar menciptakan sebuah animasi yang berkarakter mirip dengan orang aslinya.
5. Mungkin teknologi ini merupakan cikal bakal surrogate manusia di alam virtual/maya. Sehingga untuk kedepan sangat mungkin teknologi ini akan dikembangkan lebih jauh karena suatu saat dapat mewakili seseorang di dunia maya sebagai suatu karakter yang sangat identik dengan orang sebenarnya.
6. Sebagai pengembang teknologi ini, tidak hanya dibutuhkan seorang yang ahli dalam jaringan saja namun juga harus menguasai teknik desain grafis dan artificial intelligent juga.
7. Sebagai saran untuk pengembangan, ketika avatar ini telah berhasil merepresentasikan bentuk wajah dari seorang pemiliknya, maka dapat pula untuk lanjut dikembangkan kearah karakter lain yang dimiliki oleh manusia seperti suara, gerakan wajah, mimik atau anggota tubuh lainnya sehingga tampak lebih hidup.
The top resources for math ---> http://www.Math.com/
No comments:
Post a Comment