[category TDJarkom2009]
[title Jan Peter Alexander(0906503805) - French08,Hartung06]
[French08]
Seseorang dalam kursi roda mengalami hambatan dalam bergerak, terutama para penderita Spinal Cord Injury or Dysfunction (SCI/D). Aktivitas di kursi roda yang lama juga sering menyebabkan sakit. Hal ini diakibatkan oleh aktivitas dengan kursi roda yang statik menyebabkan ketegangan pada bagian tubuh tertentu dibandingkan dengan aktivitas tanpa kursi roda. Untuk itu, diperlukan sistem pelatihan Virtual Coach untuk membantu pengguna bergerak dengan benar saat menggunakan kursi roda.
Salah satu tantangan dalam pengembangan Virtual Coach (VC) adalah menentukan sikap pengguna secara umum ketika menggunakan kursi roda. Dengan menggunakan masukan yang sudah didapat, VC dapat menyediakan preferensi-preferensi gerakan yang diperlukan oleh pengguna. Selain itu, VC memiliki fungsi belajar yang menyesuaikan dengan pengguna.
Maka, rasanya penggunaan accelerometer saja kurang dalam meneliti pengguna. Salah satu solusi pembantu adalah dengan menempatkan sensor panas pada beberapa bagian di kursi roda. Beberapa teori akupunktur juga dapat diterapkan dalam penelitian ini untuk menentukan bagian-bagian yang perlu digerakkan dan titik-titik yang perlu digerakkan sehingga sebuah gerakan menjadi efisien dan minim cedera.
Penggunaan akupunktur sudah mulai dibakukan di dalam dunia kedokteran Barat. Ilmu tersebut dapat digunakan dalam menentukan stres pengguna dengan menggunakan titik-titik akupunktur. Dengan memadukan ilmu tradisional ini, bisa jadi VC dapat digunakan juga untuk melatih pemulihan dari trauma akibat kecelakaan agar seseorang dapat berjalan kembali. Hal ini dapat terjadi karena simulasi dan rangsangan dari sistem dapat dipakai untuk memacu pemulihan.
[Hartung06]
Penggunaan sensor untuk menentukan cuaca dalam rangka mencegah kebakaran dapat menjadi salah satu penjamin keselamatan penduduk sekitar. FireWxNet berusaha menjawab solusi tersebut dengan menyediakan jaringan antarsensori yang ada. FireWxNet menciptakan jaringan tersebut dengan sistem WAP, yakni teknologi nirkabel. FireWxNet menempatkan beberapa access point (AP) dalam membantu hubungan antar sensor dengan pusat pengolahan data.
Penggunaan teknologi WLAN sendiri merupakan salah satu sumber pemborosan baterai. Teknologi nirkabel yang lebih efisien dapat digunakan untuk menekan biaya penghabisan masa baterai. Salah satu yang bagus untuk itu adalah ZigBee. Selain itu, protokol yang digunakan dalam berhubungan juga dapat direduksi sehingga data yang dikirim memiliki header minimal.
Tantangan lain yang dimiliki oleh sensor-sensor ini adalah sifat mereka yang tidak alami. Penempatan sensor yang berlebihan dapat mencemari ekosistem hutan itu sendiri. Selain itu, penempatan sensor yang sedikit dapat mengurangi keakuratan data. Setiap sensor harus ditempatkan dengan jumlah proporsional. Untuk menambah keakuratan, FireWxNet dapat saja menggunakan data dari satelit sebagai data pembanding.
Konsep People Science juga dapat diterapkan dalam sistem ini, yakni mengundang partisipasi penduduk lokal. Dengan menyediakan sistem pelaporan terpadu, penduduk sekitar juga dapat menyediakan pelaporan dan data-data pembanding. Dengan demikian, selain sistem sensor ini, penduduk juga dapat menjadi bagian dari FireWxNet.
Melihat ilustrasi dari [Hartung06] dan kondisi hutan yang mudah terbakar, dapat diduga bahwa lingkungan FireWxNet memiliki akses terhadap sinar matahari. Maka selain penggunaan baterai yang hanya dapat bertahan 5 hari, sensor-sensor tersebut dapat menggunakan sel surya dalam mendapatkan sumber daya listrik.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment