Monday, November 30, 2009

[TDJarkom2009][Sesi7][0806444676-Rudi Airlangga] Voida02, Davies01

[category TDJarkom2009]
[title Rudi Airlangga (0806444676) - Voida02, Davies01]

Integrating Virtual and Physical Context to Support Knowledge Workers[voida02]
  Paper ini memaparkan tentang sebuah sistem yang memberikan informasi kepada pengguna sesuai context yang ia kerjakan pada sebuah papan whiteboard yang secara pintar dapat mengetahui context berdasarkan apa yang pengguna kerjakan. Sistem ini dapat mengolah context dengan cara mengkategorisasikan context dengan keberadaan dan pekerjaan yang sedang dilakukan pengguna. Sistem ini dibuat dengan menggunakan dua konsep virtual dan physical context untuk mendeteksi perilaku user dan memasukkannya kedalam task tertentu, contoh apabila medapatkan email masuk context virtual dan masuk task Collaboration (pengguna lain), apabila user membaca email tersebut masuk kedalam physical dan masuk task Collaboration dan task awareness.
  Penggunaan sistem ini akan sangat membantu karena context-aware yang membagi virtual dan physical menyatakan keberadaan dan pekerjaan pengguna yang sedang login di sistem tersebut dan langsung dapat berinteraksi dengan sistem tanpa menunggu context switch yang sudah diperhitunggak sistem. Penggunaan visualisasi pada setiap context yang dikerjakan user, sangat bagus, lebih bagus lagi dapat dikostumisasi sesuai keinginan user, dan secara default dapat menggunakan foto atau icon standar jika pengguna tidak ingin kostumisasi. Selain itu terdapatnya histrory akan sangat membantu pengguna untuk meninjau kembali apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya, apabila terdapat sesuatu yang terlupakan.
  Interpretasi yang digunakan sistem ini cukup bagus, setiap pekerjaan yang mempunyai informasi lokasi dan keberadaan pengguna secara cerdas dihubungkan dengan virtual dan physical context, dan sangat bagus apabila pengguna dapat lebih mengkostumisasi context dan task secara manual.

Using and Determining Location in a Context-Sensitive Tour Guide[davies01]
  Paper ini bercerita tentang Projek Lancaster Guide yang berawal tahun 1997 yang berusaha menciptakan suatu tour guide automatis yang context-aware berdasarkan 5 kriteria, yaitu: kemudahan akses informasi, tour yang pas berdasarkan selera, akses pelayanan yg ada, bertukar pesan antar peserta tour, dan pesan kesan.
  Penggunaan GPS dan wireless sangat baik karena biaya yang cukup murah dan akurat meski masih ada kekurangan seperti terhalang bangunan / tanah. Akan lebih baik jika ditambahkan macam dalam hal koneksi seperti HP (jaringan seluler) karena lebih dewasa saat sekarang ini. Ketika Offline aplikasi ini juga cukup membantu, dengan menggunakan gambar gambar dari tempat-tempat yang akan dilalui dan juga peta yang lengkap dengan nama jalan dan tempat-tempat terkenal.
  Aplikasi ini sudah cukup memberikan apa yang diinginkan oleh user berdasarkan context-tour, seperti menggunakan tag-tag untuk tempat yang sering dikunjungi, komoditas utama kota, selera, biaya, musim / cuaca, waktu peserta, dan lain lain. Sedangkan mengenai jumlah yang dibatasi oleh 9 tempat yang bisa dikunjungi dapat diatasi dengan mengadopsi berbagai macam algoritma cepat untuk problem matching dan traveling salesmen, seperti Ant Colony System, atau Immunity Genetic, atau yg lebih akurat seperti dynamic programming.

[TDJarkom2009][Sesi7][ 0806444732-Yana Adharani] Davies01, Voida02

Integrating Virtual and Physical Context to Support Knowledge Workers [voida02]

 

Di lingkungan kantor biasanya knowledge worker menggunakan berbagai macam tools dan sumber informasi, misalnya desktop, laptop, white board, dll yang tersebar di seluruh lingkungan kantor. Berdasarkan informasi yang diperoleh tersebut knowledge workers dapat menentukan tindakan apa yang paling tepat untuk dilakukan. Akan tetapi karena tools dan sumber informasi tersebut berbeda-beda maka knowledge workers harus dapat memamahami dan mensintesis potongan informasi yang beragam, sehingga cara seperti ini dianggap menyulitkan. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut peneliti dalam paper ini mencoba mengembangkan sebuah sistem yang diberi nama Kimura. Kimura mengintegrasikan berbagai tools dan sumber informasi yang digunakan oleh knowledge workers sehingga terbentuk sebuah sistim perpasive computing yang dapat memonitor interaksi user dengan komputer, electronic whiteboard, berbagai jenis jaringan serta device yang ada disekitarnya. Sistim ini menggunakan beberapa sensor fisik yang disebar ke suluruh kantor.

 

Kimura system membagi desktop menjadi dua bagian, yaitu:

-         focal region  => pada monitor desktop

-         peripheral display => diproyeksikan pada dinding kantor

 

Beberapa kelebihan dari Kimura adalah:

-         menggunakan virtual context dari desktop user untuk membantu mengklasifikasikan, menginterpretasikan, dan memvisualisasikan bentuk virtual dan physical context

-         mengintegrasikan informasi virtual dan physical  context dari aktifitas user yang terpisa-pisah kedalam bentuk visual sehingga dapat membantu user untuk menginterpretasikan informasi dan bertindak berdasarkan informasi yang tersedia

-         Secara otomatis men-track konten dari setiap working context dan menandai dokumen berdasarkan tingkat kepentingan relatifnya sehingga memudahkan user untuk memonitor dan mendeteksi perubahan working-context

-         Setiap working context ditampilkan sebagai montage dari image (analog dengan room overview), sehingga memudahkan user untuk mengingat pekerjaan yang telah dilakukan. Disamping itu susunan dan transparansi dari komponen gambar dapat menciptakan sebuah ikon untuk working context

 

Dari hasil penelitian pada paper ini, terdapat beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan dalam pengembangan sistim Kimura, diantaranya:

-         Bagaimana memperluas fungsionalitas whiteboard untuk mendukung collaborative working

-         Bagaimana mengkolaborasikan working context pada beberapa system Kimura => terkait dengan masalah privacy, akses informasi, serta sinkronisasi informasi

-         Bagaimana membangun sistim Kimura tanpa mengganggu sensor network

 

 

Using and Determining Location in a Context-Sensitive Tour Guide [Davies01]

Paper ini menceritakan tentang pengembangan aplikasi berbasis lokasi yang bernama Lancaster Guide Project. Pada lancester gude project dikembangkan sebuah sistem dengan pendekatan network centric  yang berfungsi sebagai tour guide untuk menyediakan layanan dan informasi tentang obyek, kota wisata, layanan interaktif, transfer pesan, dll. Sistim ini dibuat dalam bentuk handheld devices (alat genggam) dengan memanfaatkan wireless sensor network yang disebar di seluruh kota. Informasi. mengenai lokasi diperoleh dengan menggunakan network beacon. Terdapat tiga model informasi yang disediakan, yaitu model geografis (terdiri dari lokasi objek dan navigation object untuk panduan rute), model informasi mengenai entitas yang saling terkait (contoh: hubungan antara jarak dan biaya), serta hypertext pages untuk objek.

 

Berikut beberapa kelebihan dari sistim yang dikembangkan dalam paper ini:

-         menghasilkan informasi berkecepatan tinggi karena menggunakan wireless sensor network

-         Praktis dan mudah dibawa-bawa karena dibuat dalam bentuk handheld devices

-         Karena menggunakan network beacon maka dapat menghindari tambahan biaya dan konsumsi power

-         Bersifat user friendly karena mudah digunakan dan informasi yang diberikan disesuaikan dengan kondisi dari user, seperti minat pengguna, ketersediaan waktu, biaya, dll.

[TDJarkom2009][Sesi7][ 0906503793-I Made Agus Setiawan] anhalt01, raento05

[category TDJarkom2009]

[title I Made Agus Setiawan(0906503793) - anhalt01, raento05]

 

Sesi 7


[anhalt01] Toward Context-Aware Computing: Experiences and Lessons

Comment :

 

Pada paper ini, Anhalt et al. memaparkan mengenai bagaimana mengurangi gangguan yang mungkin terjadi pada lingkungan pervasive dengan membuat lingkungan yang sadar akan konteks yang dihadapi (context aware) seperti misal sistem mengetahui state dan posisi dari user.  Pendekatan yang dilakukan untuk membuat lingkungan seperti diatas adalah dengan mengembangkan suatu aplikasi yang bersifat context-aware seperti Portable Help Desk(PHD), Matchmaker, Privacy Guard, Speech PHD, Context-aware agents dll. Berbagai cara dilakukan untuk menghadapi segala keterbatasan yang dihadapi seperti misal speechPHD; keterbatasan resource yang dimiliki mobile device saat ini yang dibutuhkan oleh aplikasi seperti computing power, memory dan nonvolatile storage, aplikasi tidak memungkinkan diletakkan di perangkat mobile. masalah ini dapat dipecahkan dengan meletakkan  aplikasi tersebut di  server namun tentu saja akan berimbas pada masalah network latency.

Pada dasarnya, pendekatan yang dilakukan tersebut erat kaitannya dengan user-attention, bagaimana mempertahankan kemampuan seseorang untuk tetap fokus terhadap pekerjaan utamanya meskipun terdapat gangguan-gangguan yang terjadi. Context-aware application yang dikembangkan paling tidak dapat memberikan layanan; spatial awareness (location/position information) dan temporal awareness (availability information).

Pada paper ini, gangguan yang terjadi terhadap aktifitas yang dilakukan diwujudkan dalam bentuk matriks – Distraction matrix. Aktifitas yang dilakukan dikategorikan sebagai; information, communication dan creation. Sedangkan gangguan yang terjadi dikelompokkan berdasarkan durasinya; snap, pause, tangent dan extended.

Beberapa point yang dapat dicatat mengenai pendekatan yang dilakukan adalah;

1.      Dengan berkembangnya perangkat mobile kedepan, diharapkan aplikasi yang membutuhkan resource khusus seperti speech PHD dapat berjalan di mobile device sehingga masalah network latency dapat dikurangi bahkan dihilangkan.

2.      Masalah yang paling sering muncul dalam lingkungan pervasive adalah masalah privacy, karena hal ini sangat sensitif yang mmpengaruhi tingkat penggunaan sistem oleh pengguna. Dengan mekanisme yang ditawarkan aplikasi privacy guard, sedikit banyak dapat mengatasi masalah privacy ini. Namun penjelasannya terlalu umum, kurang mendetail. Bagaimana jika user ingin mengkostumisasi informasi yang disharing?

3.      Ide yang dipaparkan pada paper ini sangat menjanjikan kedepannya karena sangat informatif, memberikan kemudahan pengguna dalam mengakses informasi. Namun seberapa besar lingkungan pervasive seperti ini bisa dikembangkan? Apakah memungkinkan lebih besar dari kampus, misal kota, district? Seberapa besar ketergantungan teknologi ini terhadap lingkungannya atau terhadap mobile device yang dipakai?

4.      Seberapa besar pengaruh gangguan yang dihadapi pengguna terhadap primary task yang dilakukan? Tidak dijelaskan lebih mendetail. Apakah gangguan tersebut sangat signifikan terhadap hasil yang didapat?

5.      Bagaiamanapun hebatnya suatu teknologi, keberhasilannya tergantung dari pengguna. Jika pengguna merasa bahwa teknologi tersebut berguna, maka teknologi tersebut akan berhasil dipasaran, namun dalam hal ini, tentu saja yang harus dikembangkan lebih jauh adalah lingkungannya, selain mobile device.

 

 

[raento05] ContextPhone: A Prototyping Platform for Context-Aware Mobile Applications

Comment :

 

Pada paper ini, Raento et al. memaparkan mengenai ContextPhone, yaitu suatu aplikasi prototype perangkat mobile yang didesain sadar akan konteks yang dihadapi (Context-Aware Mobile Applications). Berbeda dengan paper yang ditulis oleh Anhalt dimana aplikasi yang dikembangkan difokuskan untuk membuat lingkungan yang pervasive/di sisi server, pada paper ini, aplikasi yang dikembangkan diletakkan pada mobile device yang digunakan.

Tujuan yang ingin dicapai yang dipaparkan pada paper ini diantaranya; platform yang dikembangkan mampu menangani permasalahan yang timbul akibat gagal koneksi / power dengan automatic recovery, mampu mengintegrasikan aplikas yang baru dengan aplikasi yang sudah ada, memudahkan pengembangan aplikasi lebih lanjut tanpa harus membangun dari awal, menjadikan context sebagai sumber daya oleh pengguna lainnya.

ContextPhone platform yang dikembangkan terdiri dari 4 module dimana masing-masing memanfaatkan sepenuhnya resource yang dimiliki oleh mobile device;  Sensor(Cell ID,GPS),  Communication(GPRS,SMS,MMS,bluetooth),  Customizable application(ContextLogger, contextcontact) dan System Services(ErrorLogging and Recovery).

Beberapa point yang dapat dicatat mengenai topik yang dibahas pada paper ini adalah;

1.    Satu hal yang menjadi pertanyaan, seberapa besar ketergantungan platform ini terhadap device yang digunakan? Apa syarat minimal agar platform ini dapat berfungsi secara maksimal?

2.    Sekali lagi, masalah security, privacy? Apa yang ditawarkan dari platform ini untuk mengatasi masalah tersebut? Kurang begitu jelas dipaparkan pada paper ini.

3.    Bagi developer, platform yang ditawarkan mungkin menjadi suatu pilihan dalam mengembangkan aplikasi, selain aplikasi yang bersifat informatif, mungkin juga dikembangkan aplikasi multimedia - kreatif seperti game.

4.   Dengan adanya library dan source code yang bersifat Open, akan memungkinkan komunitas ikut berperan serta dalam mengembangkan berbagai aplikasi yang bersifat context-aware yang tentu saja akan mempercepat pengembangan suatu aplikasi dan secara otomatis mempercepat perkembangan teknologi pervasive context-aware system.





I Made Agus Setiawan
---------------------------------

[TDJarkom2009][Sesi7][0906503805-Jan Peter Alexander] Rento05,Anhalt01

[category TDJarkom2009]
[title Jan Peter Alexander(0906503805) - Rento05,Anhalt01]

[Rento05]
ContextPhone berusaha menyediakan sebuah platform untuk pengembangan aplikasi-aplikasi berkonteks (context-based applications). Setiap komponen yang tersedia disusun dengan menggunakan pustaka bebas terbuka (Free/Open Source Software). Hal ini menjadi daya tarik tersendiri karena lisensi ini membuat setiap periset dan early adopters dapat segera menggunakan dan mereview kode ContextPhone dan berkontribusi.

Salah satu kontribusi yang menjadi signifikan adalah antara lain interopabilitas. Kode-kode ContextPhone dibuat untuk telepon pintar Nokia seri S60. Dengan membuka kode, ContextPhone dapat digunakan untuk telepon-telepon seri lainnya. Dengan menggunakan prinsip Extreme Programming, yakni berusaha untuk menyediakan fungsi sesederhana mungkin dan modular, maka setiap komponen dapat dengan mudah dipecah dan diport ke telepon lain.

Masalah yang mungkin timbul ketika porting ke tempat lain adalah kapabilitas yang tidak sama. Hal ini dapat saja terjadi mengingat pasar telepon pintar dipenuhi oleh telepon dengan segmentasi target pasar. Untuk itu, ContextPhone harus dapat menggunakan metode "fallback" apabila sebuah kapabilitas tidak tersedia. Metode "fallback" ini memudahkan aplikasi untuk memutuskan apa yang hendak dilakukan.

Penyamaan penyimpanan data juga perlu dilakukan. Penggunaan berkas log dapat menjadi hal yang tidak efisien apabila digunakan untuk ContextLog. Data yang akan diakses semakin banyak -- hal ini dimungkinkan oleh karena kapasitas ruang penyimpan yang meningkat. Maka, diperlukan sebuah basisdata yang sederhana untuk dapat mengaksesnya agar memudahkan menambang konteks (context mining). Penggunaan basisdata juga memudahkan proses atomik penulisan ke log agar tidak terjadi race condition. Selain itu, penggunaan basisdata memungkinkan data yang dimasukkan lebih uniform sehingga aplikasi dapat dengan mudah mengaksesnya.

Mengingat ContextPhone bukanlah satu-satunya proyek yang menyediakan context-aware platform, maka data yang digunakan sebisa mungkin dapat dipertukarkan dengan platform lainnya. Salah satu proyek perangkat lunak bebas yang berusaha membangun desktop semantik adalah [KDE]. Komponen ContextLog merupakan subset dari komponen Akonadi. KDE juga mendapat dukungan dari Nokia. Alangkah baiknya jika ContextPhone juga bekerja sama dengan [KDE] dalam mengembangkan platformnya. Dengan demikian, penggunaan ContextPhone dapat lebih meluas yang pada akhirnya dapat menjadi standar defacto.

Referensi:

[KDE] http://www.kde.org/

-----------------------------------------------------------

[Anhalt01]
PHD adalah sebuah aplikasi konteks yang terpadu. Arsitektur PHD yang menggunakan sebuah basisdata tersentralisasi memungkin adanya penambangan konteks. Penggunaan basisdata yang tersentralisasi ini juga menyediakan sebuah tantangan tersendiri, yakni seberapa uniform data yang ada di basisdata tersebut. Selain itu, bagaimana arsitektur tersebut mengizinkan akses antar aplikasi/komponen perlu menjadi pertimbangan. Jangan sampai sebuah aplikasi malicious dapat mengakses data dengan privasi tinggi.

Dengan keterbatasan sumber daya pada perangkat bergerak, PHD seharusnya dapat menyimpan sementara konten-konten yang diakses secara daring. Dengan adanya cache ini, terputusnya hubungan dengan server tidak mematikan fungsionalitas PHD secara keras, tetapi dapat dengan secara bertahap terdegradasi. Degradasi bertahap ini dapat memudahkan pengguna untuk memikirkan skenario cadangan dan tidak terkejut.

Hal yang mendasar dari aplikasi adalah adanya kecenderungan dualisme antara keamanan dan kenyamanan. Keamanan yang kuat seringkali mengancam kenyamanan pengguna. Sebaliknya, kenyamanan yang besar seringkali mengabaikan keamanan. Sebuah studi diperlukan untuk menyeimbangkan antara keamanan dan kenyamanan PHD bagi para penggunanya. PHD yang melibatkan antardisiplin ilmu seharusnya dapat menjawab kebutuhan studi ini.

[TDJarkom2009][Sesi7][0906503824-Manda Rohandi] Raento05, Anhalt01

Komentar [Raento05]: ContextPhone : A Prototyping Platform for Context-Aware Mobile Application.

Pada paper ini dibahas tentang ContextPhone, dimana pada contextphone ini dikembangkan dan di desain untuk mengisi celah antara kemampuan operating system dan features dari aplikasi yang dibutuhkan oleh pengembang. Contextphone membantu pengembang secara mudah menciptakan aplikasi yang terintegrasi kedalam teknologi yang telah ada dan kehidupan keseharian user. Terdapat beberapa catatan dalam paper, yaitu dikatakan bahwa terdapat tujuh desain goal's dalam contextphone tersebut, namun tidak dijelaskan secara lebih terperici tentang langkah-langkah yang harus diambil untuk mencapai goal's tersebut. Paper ini juga tidak menjelaskan secara rinci require engineering yang dibutuhkan untuk menyempurnakan prototype platform untuk contextphone ini. Secara umum paper ini hanya banyak membahas masalah software untuk contextphone dan tidak secara khusus membahas hardware yang digunakan untuk contextphone tersebut, misalanya masalah processor yang digunakan pada smart phone untuk mengolah data, besarnya kapasitas menyimpanan untuk contextlogger misalnya, kemampuan baterai untuk menyuplai daya yang dibutuhkan untuk semua sensor yang ada pada smartphone tersebut, dan masih banyak lagi yang lain. Meski dengan kekurangan yang ada pada prototype ini, diharapkan menjadi dasar untuk pengembangan contextphone dimasa depan.

 

Komentar [Anhalt01]: Toward Context-Aware Computing: Experiences and Lesson

Pada paper ini dibahas tentang pengembangan dan implementasi dari context-aware, lingkungan pervasive-computing  yang meminimalisasi gangguan dan memfasilitasikan penggabungan desain. Pendekatan yang dilakukan oleh penulis paper ini adalah dengan mengidentifikasi distraction (gangguan) yang terjadi selama proses desain, mereka membuat sebuah activity-attention matrix sebuah matrix distraction. Dalam implementasi context aware computing dalam paper ini didapat bahwa dibutuhkan banyak infrastruktur pendukung untuk konektivitas dengan internet, seperti wireless-networking access point. Dalam paper ini disebutkan dibutuhkan 400 wireless access point hanya untuk lingkungan kampus, bisa dibanyangkan jika teknologi ini diterapkan untuk area perkotaan, maka dibutuhkan banyak biaya hanya untuk infrastrukturnya. Berikutnya adalah masalah besarnya bandwidth yang dibutuhkan untuk koneksitasnya. Dan masalah lainnya adalah masalah keterbatasan kemampuan pengolahan database sampai dengan masalah keamanan data dan privasi dari pengguna teknologi ini belum dijelaskan secara detail. Mungkin karena perkembangan teknologi mobile computing pada saat itu belum seperti yang ada sekarang, maka paper ini hanya membahas context aware computing dengan keterbatasan teknologi pada saat itu.  Ada baiknya pengembangan teknologi ini menggunakan teknologi mobile computing yang jauh lebih canggih.

TDJarkom2009][Sesi7][0806444543-Harjono Padmono putro] mulloni09

[category TDJarkom2009]
[title Harjono Padmono Putro (0806444543) – mulloni09]

Indoor Positioning and Navigation with Camera Phones

Alessandro Mulloni, Daniel Wagner and Dieter Schmalstieg, Graz University of Technology

Istvan Barakonyi, Imagination Computer Services GesmbH

 

Sebuah pengembangan perangkat lunak dengan nama "Signpost" yang dapat membantu dalam mengenali posisi dan membantu menavigasi seseorang dalam sebuah ruangan dengan menggunakan sebuah kamera dari phonecell, merupakan pokok bahasan yang menarik. Ini merupakan sebuah percobaan yang apabila bisa berhasil dikembangkan menjadi sebuah aplikasi yang embedded dalam setiap ponsel, maka aplikasi ini dapat merupakan sebuah tambahan fitur penting dalam sebuah ponsel, dimana selama ini telah terdapat berbagai fungsi yang telah melekat dalam setiap ponsel, seperti : SMS,MMS dan lain-lain.

 

Adapun teknologi yang digunakan dalam Signpost ini adalah marker-tracking technology dan aplikasi ini dirancang untuk bekerja dengan sparse tracking, artinya bahwa lokasi yang telah dikenali (tracking) oleh sebuah ponsel akan ditandai dalam beberapa titik, sehingga apabila ada signal dari sebuah ponsel terdeteksi dalam track ini, maka akan posisi akan disimpan. Ada beberapa langkah untuk menentukan lokasi baru dalam aplikasi Signpost ini : (1). Create map and database of marker location, (2). Deploy marker on site, (3). Create a new software release

 

Hasil pengujian yang telah dilakukan, ternyata aplikasi ini telah mampu dipasangkan dalam berbagai ponsel dan berhasil dengan baik, tetapi memang perlu adanya sebuah percobaan yang mencoba untuk menguji apakah aplikasi ini dapat terhubung (link) dengan internet, sehingga posisi seseorang dapat diketahui dan kemampuan navigasinya juga bisa lebih luas.



Apakah wajar artis ikut Pemilu?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!

[TDJarkom2009][Sesi7][0906644524-Abdul Arfan] Hightower01, Ward97

[category TDJarkom2009]
[title Abdul Arfan (0906644524) - Hightower01, Ward97]

Location Systems for Ubiquitous Computing

Untuk mendukung terciptanya Ubiquitous Computing diperlukan suatu
kerangka kerja untuk mengetahui posisi dari orang-orang atau
benda-benda tertentu supaya seseorang dapat memanfaatkan alat-alat
berdasarkan informasi lokasi tersebut. Contohnya adalah penggunaan
location system pada suatu rumah yang mempunyai beberapa telepon yang
saling terhubung. Sistem dapat mendeteksi posisi orang dan mengetahui
lokasi tiap telepon dalam rumah. Jika ada telepon masuk, sistem hanya
akan membunyikan telepon yang terdekat dengan posisi orang tersebut.

Strategi yang digunakan untuk mengetahui lokasi dapat berupa
triangulasi. Strategi ini menggunakan beberapa pendeteksi jarak ke
obyek dari titik yang diketahui lokasinya sehingga posisi obyek dapat
ditentukan. Sistem ini juga dapat menggunakan strategi proximity
dimana strategi ini mencari jarak terdekat dari beberapa titik yang
telah ditentukan. Selain kedua strategi diatas, sistem juga dapat
menggunakan strategi scene analysis untuk memeriksa keadaan dari
titik-titik yang dinilai menguntungkan.

Posisi obyek dalam suatu ruangan bisa direpresentasikan dengan
menggunakan posisi absolute dan posisi relatif. Posisi absolute adalah
posisi yang tidak bergantung dengan lokasi dari obyek lain, misalnya
posisi longitude dan latitude pada GPS. Posisi relative adalah posisi
yang dinyatakan dengan menggunakan obyek lainnya sebagai acuan,
misalnya "didekat televisi", "disebelah kanan kulkas", "satu meter
dari pintu" dan lain sebagainya.

Penggunaan location system sangat penting dalam ubiquitous computing
karena sistem ini dapat memungkinkan pengguna menggunakan aplikasi
dengan lebih beragam dengan adanya tambahan informasi berupa lokasi.
Skenario lain dengan menggunakan location system adalah pada navigasi
dari suatu gedung atau bangunan. Sistem dapat memandu orang untuk
menemukan tempat-tempat tertentu yang ingin dituju pada bangunan
tertentu. Sistem juga dapat memberitahukan informasi mengenai suatu
koleksi yang berada di lokasi tertentu pada sebuah museum.

Selain contoh diatas, adanya informasi lokasi yang lebih akurat juga
akan memungkinkan pembuatan sebuah kursi roda yang dapat secara
otomatis membawa orang yang memiliki kekurangan fisik menuju ruangan
tertentu. Dengan dibuatnya berbagai macam pendekatan untuk sistem ini,
teknologi kita akan semakin mendekati zona Ubiquitous Computing di
masa yang akan datang.

-----------------

A New Location Technique for the Active Office

Pada paper dipaparkan sebuah sistem sensor yang cocok untuk dipasang
pada ruangan yang berskala besar. Sensor ini memungkinkan pendeteksian
lokasi dari orang dan peralatan secara tepat. Paper ini juga membahas
mengenai aplikasi-aplikasi apa saja yang dapat memanfaatkan informasi
lokasi menggunakan sensor tersebut.

Saat ini teknologi sensor untuk menentukan lokasi semakin beragam
penggunaannya, mulai dari penggunaan active badge yang menggunakan
inframerah sampai ke pelacak elektromagnetik. Penggunaan inframerah di
active badge dapat melacak lokasi seseorang dan selalu memberitahukan
lokasi tersebut setiap satuan waktu tertentu. Penggunaan pelacak
elektromagnetik lebih canggih lagi, karena dapat mengetahui lokasi dan
juga orientasi dari seseorang pada skala 1 milimeter dan sudut hingga
0.2 derajat. Akan tetapi sensor seperti ini memiliki kelemahan karena
harganya mahal dan hanya dapat menjangkau area yang sempit. Selain itu
sensor ini juga sensitif terhadap benda-benda yang terbuat dari logam.

Informasi lokasi juga dapat diperoleh dari data-data mentah berupa
video dari kamera. Hasilnya akan cukup akurat, tetapi dibutuhkan
komputasi yang besar untuk melakukan pemrosesan pada data tersebut.
Untuk penentuan posisi pada areal yang luas dapat digunakan GPS atau
LORAN yang dapat memberikan ketelitian sampai 50 cm. Sayangnya,
penggunaan alat ini hanya efektif pada area terbuka karena area
tertutup akan menimbulkan refleksi pada sinyal radio yang dikirimkan.

Teknik pencarian lokasi yang dipaparkan pada paper menggunakan
transmitter yang dipasangkan pada setiap obyek. Obyek ini nantinya
akan digunakan untuk menentukan jarak terhadap beberapa titik acuan.
Untuk mendapatkan posisi yang akurat dari obyek tersebut dibutuhkan
minimal 4 titik acuan. Selain itu, dibutuhkan beberapa transmitter
yang dipasangkan pada beberapa titik di obyek tersebut untuk
mengetahui orientasinya. Transmitter ini akan memancarkan sinyal yang
berbeda sehingga arah obyek dapat ditentukan dari pancaran sinyal
transmitter tersebut.

Penggunaan sensor tambahan dapat dilakukan untuk peningkatan akurasi.
Resiko kesalahan penghitungan lokasi dapat dikurangi dengan adanya
beberapa sensor tambahan tersebut.

Sebuah sistem pencarian lokasi yang baik tidak harus memiliki akurasi
yang terlalu tinggi karena yang paling penting dari penggunaan sistem
ini adalah tujuan penggunaan dari hasil lokasi tersebut. Jika hanya
ingin menentukan letak sebuah obyek pada suatu ruangan, maka akurasi
dengan ketelitian 0.5 m saja sudah cukup. Sedangkan jika sistem ini
digunakan untuk menangkap perpindahan posisi atau pergerakan anggota
tubuh seseorang, maka akurasi harus ditingkatkan sampai ketelitian 1
cm. Diperlukan suatu keseimbangan antara pemakaian sensor, beban
penghitungan dan ketelitian yang diperlukan supaya sistem dapat
berjalan efisien dan tetap memberikan informasi yang relevan dengan
tujuan penggunaannya.

[TDJarkom2009][Sesi7][0906593271-Uray Heri M.] Davies01, Voida02

[category TDJarkom2009]
[title Uray Heri M.(0906593271) - Davies01, Voida02]

[Davies01]  

Kajian yang dilakukan dalam paper ini diarahkan untuk menghasilkan suatu guide yang context-sensitive applications. Suatu sistem yang didesain untuk memberikan kemudahan dalam proses tour yang dilakukan oleh tourist ataupun end-user lain yang memerlukan aplikasi ini. Hal ini dimungkan karena sistem ini dapat memberikan data mengenai kota ataupun lokasi tempat end-user berada. Secara explisit hal ini mengharuskan kertsediaan data mengenai lokasi tempat end-user berada. Kondisi ini sangat kondusif untuk daerah-daerah yang databasenya telah tersedia, namun untuk daerah-daerah yang databasenya belum terorganisasi dengan baik tentu saja informasi yang bisa diakses sangat minim.

Salah satu kemampuan yang dimiliki oleh sistem ini adalah mampu beradaptasi terhadap perubahan lokasi pengguna. Hal ini mengindikasikan bahwa  sistem ini dilengkapi dengan wireless card yang dapat berkomunikasi dengan menggunakan base stasion yang ada di daerah tersebut. Masalah utama yang harus diperhatikan adalah continuitas komunikasi antara end-user dengan base station mengingat teknologi guide ini memanfaatkan GPS yang sangat rentan terhadap tipologi suatu daerah. Untuk daerah perkotaan yang didalamny terdapat gedung-gedung pencakar langit,sinyal informasi yang dikirimkan oleh guide mungkin saja tidak sampai kepada end-user. Untuk itu diperlukan aplikasi tambahan yang dapat memastikan bahwa interaksi antara guide dan end-user terjadi denga baik atau sedang mengalami gangguan.

Di sisi lain, rentang jarak yang dapat diakses untuk melakukan komunikasi antara guide dan end-user tidak terdefinisikan dengan jelas sehingga constraint location tidak dapat ditentukan. Seiring dengan mobilitas user, tentu saja hal ini sangat perlu untuk diperhatikan sehingga penerapan teknologi ini dapat memberikan kemudahan.

Akan sangat membantu apabila sistem ini juga dilengkapi dengan kamera, sehingga untuk unpredictable condition akibat kurang baiknya transmisi sinyal guide kepada end-user, lokasi end-user dapat segera diketahui.

Dengan bandwidth sebesar 2Mbps sangat memungkinkan apabila sistem guide ini dilengkapi dengan aplikasi yang dapat mengakses current situation mengenai trafict line sehingga proses tour dapat dilakukan tanpa hambatan yang berarti.


[Voida02]

Kimura sistem yang diperkenalkan pada kajian paper ini pada prinsipnya merupakan penerapan teknologi yang ditujukan untuk membantu worker knowledge mengorganisir berbagai pekerjaan. Sederhananya teknologi ini merupakan penjabaran atau perluasan peran komputer sehingga berfungsi layaknya sebuah buku agenda yang dapat mencatat dan memonitor aktivitas user secara sequensial dan continues.

Akan sangat menarik jika kajian ini mengikutsertakan teknologi Remote admin untuk mengakses PC yang dilengkapi kimura sistem sehingga worker tetap dapat memonitor aktivitas pada kimura sistem tersebut tanpa harus bertatap muka secara langsung dengan PC. Kondisi ini akan sangat jelas dampaknya untuk pekerjaan yang tidak dapat dipending.

Continuitas sistem ini secara explisit menggambarkan kebutuhan akan sumber power yang kontinues pula. Fenomena ini tentu saja bukan masalah untuk daerah-daerah yang ketersediaan powernya sudah baik.



[TDJarkom2009][Sesi7][0906503862 - Adi Wibowo] Hightower01, Ward97

[category TDJarkom2009]
[title Adi Wibowo (0906503862) - Hightower01, Ward97]


[Hightower01] Hightower, J., Boriello, G. 

Location Systems for Ubiquitous Computing.

IEEE Computer 33(8), August, 2001. 

 

Location Aware tidak lah mudah diterapkan. Karea banyak sekali aspek yang perlu di ikutserakan dalam service ini.  Misalkan disuatu tempat dengan kordinat tertentu hasil dari pemetaan GPS, belum tentu lokasi tersebut memiliki prilaku/keberadaan yang sama, misalkan sebuah surat di titik kordinat kotak surat, belum tentu berada didalam kotak surat, bisa saja, surat tersebut jatuh dibawahnya,atau diletakan diatasnya, dan kemungkinan yang lain. Hal ini menyebabkan perlunya infomasi tambahan selain lokasi pasti. 

Paper location system for ubiquitos computing mencoba membahas tetang bagaimana hasil survai dan taksonomi yaitu berupa posisi absolut, relatif,  scale, recognition,  dan cost dapat diterapkan dalam location aware di ubiquitos computing. Beberapa contoh aplikasi seperti active Badge, Active Bat, Cicket, RADAR, motionStar Magnetic tracker, easy living, smart floor, dan E911, diperlihatkan dalam paper, tetapi masih memiliki banyak kekurangan dan kelebihan. Dari sisi bentuk  juga masih terlalu besar.

Paling menarik dari paper ini adalah pembahasan tentang ad-hoc location sensing, yang dalam paper lain yaitu Swaroop Venkatesh , R. Michael Buehrer, Multiple-access insights from bounds on sensor localization, Pervasive and Mobile Computing, v.4 n.1, p.33-61, February, 2008, yang membahas tentang penggunaan ad-hoc location-aware sensor networks untuk presisi ketepatan untuk location aware.

Saat ini perangkat yang telah di lengkapai dengan GPS telah banyak tersedia, sehingga sebenarnya sangat dimungkinkan location aware dapat dilakukan dengan mengkombinasi pemerolehan posisi dengan prilaku dari user tersebut, seprti paper sebelumnya yaitu Choudhury, T., Borriello, G., Consolvo, S., Haehnel, D., Harrison, B., Hemingway, B., Hightower, J., Klasnja, P., Koscher, K., LaMarca, A., Landay, J., LeGrand, L., Lester, J., Rahimi, A., Rea, A., Wyatt,D. The Mobile Sensing Platform: An Embedded Activity Recognition System. IEEE Pervasive Computing 7(2), April-June, 2008. Dimana berusaha digabungkan antara Activity Rrecogniting System dengan Location Aware dapat dikombinasikan sehingga diperoleh informasi yang lengkap untuk location aware itu sendiri.

 

[Ward97] Ward, A., Jones, A., Hopper, A.

A New Location Technique for the Active Office.

IEEE Personal Communications 4(5), October, 1997. 

 

Hampir sebagian besar mengkonfigurasi peralatan sesuai dengan kebutuhan dan tempat memerlukan waktu yang cukup banyak dan juga memerlukan sumber daya yang lebih. Dalam paper ini mencoba untuk membahas bagaimana sebuah perankat komputer dapat menyesuaikan konfigurasi mereka berdasarkan konteks user dan lingkungan. Dalam mementukan konteks, digunakan input dari sensor system di sekitar, dan beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Yang menarik dari paper ini adalah pada tahun tersebut akan dicoba diaplikasikan pada Active Badge, dan ide interactive office yang menurut saya sangat futuristik untuk tahun tersebut, walaupun masih dalam tahapan pengembangan di laboratorium.

Dengan perkembangan yang sangat pesar untuk sensor network seperti RFID, maka location aware sangat mungkin dikembangkan di indonesia, terutama dapat digunakan untuk fasilitas absensi dan security. Dengan harga sensor network yang sudah mulai murah, maka sangat perlu dikembangkan untuk kebutuhan spesifik di indonesia.

Dan yang menarik lagi adalah location aware dapat dikembangkan menggunakan virtual social network yang saat ini sedang booming. Seperti penjelasan pada paper Location-based social network services employing student cards for university. Daisuke Yamamoto, et all . Nagoya Institute of Technlogy, Showa-ku, Nagoya, Aichi, Japan. Proceedings of the 2009 International Workshop on Location Based Social Networks. Mengembangkan menggunakan social network service dengan facebook, twiter dan lain, lain. Sehingga dimungkinkan location aware tanpa mengembangkan embeded system yang sulit.

 Adi Wibowo

 


[TDJarkom2009][Sesi7][0906644505-Ricky Suryadharma] Davies01, Voida02

[category TDJarkom2009]
[title Ricky Suryadharma (0906644505) - Davies01, Voida02

 

Judul paper:
Using and Determining Location in a Context-Sensitive Tour Guide

 

Penulis paper membahas mengenai sebuah perangkat panduan tur di Kota Lancaster. Pembahasan meliputi perangkat keras, perangkat lunak, dan jaringan yang digunakan. Akan tetapi, pembahasan lebih banyak menitikberatkan pada perangkat lunak sehingga masalah-masalah yang terdapat pada perangkat keras dan jaringan kurang dijelaskan lebih detail (walau disebut) dan kurang solusi. Selain itu, judul paper sebenarnya kurang tepat karena percobaan dan pembahasan dilakukan terhadap Kota Lancaster sehingga judul paper seharusnya ditambahkan dengan studi kasus kota tersebut. Oleh karena percobaan dilakukan di satu kota, beberapa masalah perangkat panduan tur itu menjadi spesifik terhadap kota itu. Jika informasi mengenai jadwal, lokasi, dan biaya transportasi itu pasti atau bisa dipercaya, maka perangkat ini tentu tidak menghadapi masalah berat. Akan tetapi, coba bayangkan perangkat ini digunakan di Jakarta di mana kemacetan hampir tak bisa dihindari, tentu masalah ini juga harus dibahas dan dicari solusinya. Selain itu, sebenarnya perlu ditambah juga kemampuan menentukan keputusan untuk pilihan beberapa orang karena kemungkinan besar tur diikuti oleh serombongan/sekelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama.

 


Judul paper:
Integrating Virtual and Physical Context to Support Knowledge Workers

 

Penulis paper membahas mengenai sebuah sistem bernama Kimura yang dapat mencatat aktivitas dan keberadaan pekerja kantor baik di dunia maya, maupun di dunia nyata (fisik kantor), serta menampilkan catatan tersebut sedemikian rupa di papan tulis elektronik sehingga pekerja dapat lebih baik mengingat apa yang telah terjadi dan apa yang harus ia lakukan kemudian. Tampilan dibuat dengan gambar-gambar jendela program yang digunakan pengguna yang disusun dengan berbagai ukuran dan transparansi sehingga dapat membuat pekerja lebih fokus untuk mengingat, serta foto-foto atau letak keberadaan pekerja lainnya sehingga dapat mengunjungi pekerja lainnya dengan lebih mudah.

 

Selain kegunaan yang didapat, sistem ini juga masih memiliki kekurangan. Keamanan dan privasi menjadi masalah utama sistem ini. Walau disebut, masalah ini tidak dibahas solusinya. Salah satu solusi yang bisa ditawarkan adalah dengan menyimpan data terenkripsi dan terdapat cara pengalihan tampilan dari papan tulis elektronik ke layar monitor. Selain itu, jaringan dalam sistem ini tidak dibahas detail merupakan sebuah kekurangan juga dalam paper.


[TDJarkom2009][sesi7][0906505994-L.M.Fid Aksara]anhalt01,raento05

[Category TDJarkom2009]

[title L.M. Fid Aksara(0906505994) – anhalt01,raento05


[anhalt01]Toward Context-Aware Computing: Experiences and Lessons

Dengan membaca paper ini pengetahuan saya tentang pervassive computing bartambah lagi bahwa user distraction itu diusahakan untuk diminimalisir agar tidak mengganggu user dalam kegiatan sehari-hari. Oleh karena itu dibuatlah beberapa aplikasi untuk mengurangi user distraction tersebut. Sehingga sifat pervassive-nya semakin nyata.

Akan tetapi didalam paper ini implementasi dari aplikasi-aplikasi context awarenya masih menggunakan laptop. Yang mana bagi sebagian user mungkin masih merasa terganggu kalau harus membawa laptop kemana-mana. Pengaliksiannya juga masih disekitar kampus yang boleh jadi infrastrukturnya masih bisa dipenuhi karena ruang lingkupnya masih kecil. Bagaimana kalau sistem ini diterapkan di luar dari kampus dimana tidak ada suatu daerah yang tidak mempunyai koneksi wireless. Apalagi jaman sekarang ini sebagaimana yang telah dijelaskan pada paper-paper sebelumnya, seharusnya aplikasi-aplikasi yang disebutkan didalam paper bisa di terapakan pada smartphone. Sehingga user tidak perlu lagi repot-repot untuk membawa laptop kemana-mana dan mencari daerah yang mempunyai koneksi wireless. Karena sudah digantikan dengan smartphone yang ukurannya jauh lebih kecil, konsumsi dayanya juga tidak sebesar laptop  dan dia tidak membutuhkan koneksi wireless karena smartphone menggunakan sinyal handphone layanan yang disediakan oleh seluler service provider, sehingga user bisa melakukan kegiatnnya sehari-hari seperti biasa.


[raento05]ContextPhone: A Prototyping Platform for Context-Aware Mobile Applications

Dalam paper ini kita mengtahui cara lain untuk memaksimalkan  kemampuan sebuah smartphone. Yaitu dengan menjadikan smartphone sebagai contextphone. Dalam paper ini juga dijelaskan kenapa smartphone yang dipilih untuk dijadikan sebuah gadget yang context aware, yaitu karena smartphone itu bisa diprogram dan sudah familiar dengan kebiasaan user. Satu lagi yang membuat saya tertarik yaitu dengan contextphone ini kita dapat menambah ataupun mengubah aplikasi yang ada di dalam smartphone tanpa mengganggu aplikasi yang sedang berjalan atau sudah ada didalam smartphone tersebut.

Akan tetapi dalam paper ini ada beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan buat saya. Kalau dilihat dari context logger yang menerima data dari sensor dan kemuadian menulisnya kedalam local file smartphone, tidak dijelaskan bagaimana menjamin ketersediaan space dari memori smartphone tersebut, langkah-langkah apa yang diambil jika localfile-nya error atau penuh?

Context phone ini dibuat diatas smartphone nokia 60's series yang menggunakan sistem operasi simbian. Tetapi dalam paper ini tidak dijelaskan untuk kedepannya apakah bisa diterapkan pada smartphone yang menggunakan windows mobile ataupun sistem operasi lain. Semoga diwaktu yang akan datang contextphone ini dapat digunakan pada sistem operasi yang lain.Terlepas dari itu semua contextphone ini akan sangat membantu kehidupan sehari-hari kita karena sifat dari contextaware-nya.