Monday, November 16, 2009

[TDJarkom2009][Sesi3][0906503856-Revaldo Ilfestra Metzi Zen] balasubramaniam04, heidemann01

[category TDJarkom2009]
[title
Revaldo Ilfestra Metzi Zen(0906503856) - balasubramaniam04, heidemann01]

Vertical Handover Supporting Pervasive Computing in Future Wireless Networks [balasubramaniam04]

Penulis paper ini menjelaskan tentang vertical handover, yaitu perpindahan koneksi dari interface network yang satu ke interface network yang lain secara dinamik, seperti perpindahan koneksi dari UMTS ke WLAN ato sebaliknya. Vertical handover merupakan salah satu requirement yang dibutuhkan untuk membangun sebuah pervasive computing system, karena apabila user berpindah-pindah tempat(misalnya dari satu network ke network lain), tidak membuat aktivitas user berhenti pada suatu device. Hal ini menjadi sulit untuk masalah video streaming karena membutuhkan banyak requirement seperti bandwidth, delay, jitter dan loss rate. Ketika terjadi handover ini diusahakan QoS violation diminimalisasikan. Didalam konteks model dibutuhkan dua profile yaitu static profile yang nilainya tidak berubah dan dynamic profile yang nilainya berubah-ubah. Dari dua profile ini, diketahui tentang informasi dari device seperti kemampuan device, interface network apa saja yang dimiliki device, dan letak device. Pada dinamik static terdapat Impending Network Profile(INP) yang berfungsi menentukan network apa yang akan digunakan.

Mekanisme dalam vertical handover dipaparkan sebagai berikut pertama Vertical Handover Decision Proses, pada saat ini memberikan informasi apakah perlu dilakukan vertical handover atau tidak. Ada aturan-aturan yang dijalankan yaitu rule 1 ketika inisialisasi atau pergantian device, rule 2 keluar dari jaringan, rule 3 masuk jaringan, rule 4 ketika network QoS berubah. Untuk mendapatkan QoS yang bagus maka terdapat 4 constraint yang harus dipenuhi yaitu memaksimalkan user device preference, memaksimalkan application bandwidth, meminimalisir jitter, delay dan loss, meminimalisasi fluktuasi bandwidth. Salah satu metode yang digunakan adalah Analytic Hierarchy Process (AHP), dijelaskan langkah-langkahnya di dalam paper, namun tidak dijelaskan kelebihan dan kekurangan dari metode ini, dan tidak dijelaskan metode lain. Setelah ditemukan QoS yang sesuai dengan kebutuhan, maka terjadi proses The QoS mapping process, proses perpindahan ke interface network lain.

Didalam paper ini tidak dijelaskan efek dari vertical handover, apakah memakan power yang besar atau membutuhkan komputasi yang besar sehingga dibutuhkan device yang powerful. Apakak metode AHP merupakan metode yang paling optimal dalam memilih QoS juga tidak dijelaskan dalam paper ini.

Building Efficient Wireless Sensor Networks with Low-Level Naming [heidemann01]

Paper ini membahas bagaimana membangun sebuah Wireless Sensor Networks yang effisien. Jaringan ini juga tidak bergantung pada network topological location. Di paper ini juga dijelaskan mengenai software architecture yang mendukung named data dan in-network processing di dalam sensor network. Setelah mengimplementasikan software architecture ini kemudian dicoba, menyebabkan traffic berkurang menjadi 42% dan jika menggunakan cara nested berkurang menjadi 30%. Kontribusi yang ditawarkan oleh penulis dalam paper ini adalah mengidentifikasi building blocks dari arsitektur, terutama pada attribute based naming scheme with flexible matching rules dan menunjukkan bagaimana cara berjalannya jaringan ini pada sistem dan menemukan keuntungannya.

Sementara terdapat penelitian-penelitian yang berhubungan dengan wireless sensor network ini yaitu Attribut-based naming systems, In-network processing, dan sensor network specific system. Pada masing-masing penelitian ini ditunjang pula dengan penelitian-penelitian yang lain, sehingga ide dari wireless network sensor ini sudah muncul sejak dulu. Aristektur wireless sensor network ini terdiri dari 3 komponen utama, yaitu directed diffusion yang berfungsi memberikan n-way communication yang effisien antara satu atau lebih sumber informasi dan penerima sumber informasi. Komponen yang kedua adalah Attribute Tuples and Matching Rules yang berfungsi untuk menyocokkan data yang dikirim dan diterima di masing-masing node. Kemudian Komponen yang ketiga yaitu Filters untuk mengontrol data-data dan aplikasi-aplikasi yang masuk ke dalam network tersebut.

Setelah arsitektur tersebut diimplementasikan, penulis mengevaluasi bagaimana keuntungan dan kekurangannya. Kelebihannya adalah mengurangi traffic dan konsumsi power. Kekuarangannya adalah meningkatkan latency. Masih banyak sekali kemungkinan yang dapat dikembangkan dari paper ini terutama dalam masalah optimisasi dalam jaringan. Di paper ini disebutkan tentang fusion algorithm, namun tidak diberikan bagaimana gambaran umum dari fusion algorithm. Diharapkan dari paper ini dapat menciptakan sensor-sensor yang cerdas dalam mengirimkan dan mengolah data sehingga mimpi-mimpi dari pervasive system dapat terwujud.

No comments:

Post a Comment