Wednesday, November 25, 2009

[TDJarkom2009][Sesi6][0906593233-Muhammad Adi Sujiwo] gaonkar08, paulos08

[category TDJarkom2009]
[title Muhammad Adi Sujiwo (0906593233) - gaonkar08, paulos08]

Komentar Paper: Micro-Blog: Sharing and Querying Content Through Mobile
Phones and Social Participation

Saat ini suatu ponsel telah menjadi semakin canggih dengan dimilikinya
fitur-fitur sensorik berupa sensor lokasi (GPS), peraba detak jantung,
akselerometer dan peraba jaringan nirkabel. Bersamaan dengan munculnya
jaringan kolaborasi pengguna (Wikipedia, Blog) dan jaringan sosial
(Facebook, Myspace), semua ini dapat direkayasa menjadi platform
partisipatoris yang ampuh untuk menggalang konten multimedia dari
penggunanya. Inilah yang menjadi dasar dari rancangan Micro-Blog.
Micro-Blog dirancang untuk mengumpulkan informasi dari sensor-sensor
ponsel, di samping konten konvensional (teks, gambar, video) dari pengguna
ponsel. Informasi dan data ini kemudian ditandai dengan data informasi
geografis, untuk kemudian diunggah ke suatu server. Pengguna lain yang
berminat dapat melakukan query informasi menurut wilayah yang diinginkan.
Query ini kemudian diteruskan pada partisipasi personal secara eksplisit.
Dari platform Micro-Blog ini kita dapat mengembangkan berbagai aplikasi,
seperti:
- Micro News
- Micro Alerts
- Social Collaboration
Meski demikian, platform ini masih jauh dari sempurna. Terdapat beberapa
problem yang belum terpecahkan, diantaranya:
Konsumsi energi; program client yang berjalan pada ponsel harus
menyeimbangkan frekuensi update dan konsumsi energi. Pengurangan frekuensi
update berarti bahwa resolusi data berkurang, sehingga akurasi juga ikut
berkurang. Alternatif lain adalah penggunaan triangulasi pemancar GSM,
namun akurasinya lebih rendah dari GPS.
Insentif bagi pengguna; pengguna belum tentu menjawab query dari pengguna
lain yang masih asing bagi mereka bila ia tidak merasakan pertambahan
nilai dari aktivitas ini (menjawab berarti menghabiskan baterei dan biaya
koneksi!)
Pencatatan lokasi dapat menunjukan keberadaan pengguna. Ini berarti
pengguna harus mempercayai bahwa server akan memperlakukan data ini dengan
benar tanpa menjualnya ke pihak lain.
Spam; munculnya kemungkinan pengguna mengirimkan informasi palsu, atau
informasi yang tidak akurat.

Komentar Paper: Citizen Science: Enabling Participatory Urbanism
Sejalan dengan paper sebelumnya, paper ini juga mengajukan usulan
keterlibatan pengguna sebagai sensor bergerak, tetapi dalam bidang
pengukuran kualitas lingkungan. Penulis menyebutnya sebagai "urbanisme
partisipatif" di mana masyarakat diajak menjadi pengukur kualitas
lingkungan dengan membawa perangkat khusus pengukur parameter yang
digabungkan dengan perangkat ponsel yang telah jamak dimiliki. Dengan
mengangkat peran masyarakat seperti ini, diharapkan hal ini dapat
memberdayakan individu-individu sebagai agen perubahan di dunia.
Penulis mengambil ide pemberdayaan pengguna sebagai agen komputasi ini
dari sejumlah kegiatan sebelumnya, seperti: gerakan open source,
SETI@home, people power dan sebagainya.
Untuk dapat melakukan kegiatan pengukuran, dibangun suatu perangkat sensor
khusus yang dipadukan dengan perangkat ponsel sebagai media transfer data
ke suatu server khusus. Namun demikian, masih terdapat beberapa penghalang
teknis seperti:
- Ekstensibilitas platform ponsel yang cenderung tertutup
- Kesamaan format file pertukaran data; terdapat cukup banyak standar yang
masing-masing tidak sama seperti Google Maps, RSS/Atom, dan sebagainya.
- Konsumsi tenaga; pemasangan sensor tentu saja akan menambah konsumsi
tenaga ponsel.
- Tingkat kepercayaan data dari pengguna
- Kalibrasi sensor pada pengguna (karena sensor ditangani oleh kalangan
awam non-ahli).
- Super sampling; bagaimana meringkas kumpulan data dalam jumlah besar
menjadi informasi yang berguna.

No comments:

Post a Comment