Monday, November 16, 2009

[TDJarkom2009][Sesi3][0906503805-Jan Peter Alexander] Royer99,Yang07

[category TDJarkom2009]
[title Jan Peter Alexander(0906503805) - Royer99,Yang07]

[Royer99]
Jaringan ad hoc memiliki beberapa aspek yang harus dipenuhi, salah
satunya adalah penentuan protokol pengiriman (routing protocol). Dalam
tulisan [Royer99] ada dua kategori pendekatan yang dipakai dalam
penentuan routing dalam sebuah jaringan ad hoc, yakni berbasis tabel
dan berbasis asal.

Selain kompleksitas dan memori seperti yang disebutkan dalam
[Royer99], isu yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan tabel
adalah daya yang diperlukan dalam mempertahankan informasi routing.
Perangkat yang tergabung dalam jaringan ad hoc adalah perangkat
bergerak yang sebagian besar memiliki keterbatasan dalam penyediaan
daya. Penataran yang tidak perlu dapat menyebabkan sumber daya
perangkat tersebut cepat habis.

Metode yang kedua adalah membuat routing berdasarkan asal
(source-driven). Pengirim menatar daftar routingnya saat tertentu
saja. Dengan demikian, setiap node ad hoc tidak perlu selalu menyala.
Dengan demikian, setiap node dapat mereservasi energinya dengan lebih
baik. Algoritma-algoritma dengan metode ini juga telah memasukkan
deteksi loop infinit sebagai salah satu parameter sehingga jalur
routing dapat dibuat dengan baik.

Akan tetapi, penggunaan tabel menjadi lebih efisien dibandingkan
dengan source-driven. Penggunaan on-demand menjadi bumerang pada area
dengan densitas tinggi. Setiap peralatan pervasif yang mengirimkan
data secara terjadwal dapat membuat alat-alat di sekelilingnya ikut
menyala dan menghitung routing. Alih-alih menyelamatkan catu daya,
setiap peralatan terus menyala.

Maka, selain beberapa hal yang diidentifikasi oleh [Royer09] sebagai
tantangan, ada tantangan lainnya yang tersirat di dalam tulisan yakni
densitas node yang ada di dalam jaringan ad hoc. Sebagai contoh,
seandainya di masa depan setiap telepon genggam sudah dilengkapi oleh
kemampuan pervasif. Data yang dialirkan pada stasiun kereta misalnya,
dapat melalui hop yang banyak dan interferensi gelombang yang besar.
Data routing yang disimpan bisa jadi menjadi sangat besar.

Masalah lain yang muncul dari membaca tulisan [Royer99] adalah masalah
beban setiap node. Node dengan kapasitas yang baik bisa jadi selalu
menjadi bagian routing alat-alat lain. Hal ini dapat menyebabkan
penurunan kualitas node tersebut. Seharusnya, node-node yang lain
dapat memilih jalur-jalur alternatif sehingga dapat terjadi pembagian
yang adil.

Dengan adanya dua parameter, kepadatan node dan tingkat mobilitas,
perlu dibuat pendekatan hibrida atau bahkan baru sama sekali. Hal ini
karena kebanyakan pendekatan-pendekatan yang ada berdasarkan teknologi
lain dengan kebutuhan yang berbeda.uting yang dibuat dapat dengan
efisien membentuk

[UoL] SECAN-Lab University of Luxembourg.
http://wiki.uni.lu/secan-lab/Table-Driven+Routing.html.

========================

[Yang07]

Penggunaan transportasi pintar (Intelligent Transportation Space)
dapat menjadi sebuah kenyataan. Dalam tulisan [Yang07], penggunaan
tersebut telah ditopang oleh komunikasi nirkabel. Komunikasi antar
perangkat sudah bukan menjadi kendala yang berarti. Peralatan
pendukung juga sudah mulai dikembangkan dan beberapa bentuk primitif
telah diluncurkan.

Namun, seperti yang tersirat dalam [Yang07], kendala yang utama dari
penerapan teknologi adalah konteks budaya dan hukum. Tidak semua orang
siap dengan perubahan teknologi yang drastis. Sebagai contoh, di
Indonesia ketika jembatan Suramadu dibuka, dalam tempo singkat sudah
banyak terjadi vandalisme. [SURA] Penerapan teknologi yang canggih
tanpa disertai penerimaan masyarakat dapat mengakibatkan kegagalan
implementasi.

Salah satu penyebab dalam kurangnya penerimaan terhadap teknologi maju
adalah terjadinya perubahan pola hidup dan cara berpikir. Kendati
sebuah teknologi pervasif dapat dikembangkan dengan baik, kehidupan
yang tadinya sulit menjadi gampang juga dapat menyebabkan kebingungan.
Kebingungan ini tentunya pada akhirnya dapat menyebabkan penolakan.

Penerapan transportasi pintar menyebabkan juga pola baru dalam
penentuan kebijakan. Masalah yang timbul saat sebuah transportasi
berjalan otomatis adalah ketika terjadi kecelakaan yang melibatkan
asuransi. Siapakah yang bersalah saat operasi itu terjadi? Dapatkah
seseorang mengklaim asuransinya ketika terjadi sebuah kecelakaan yang
berhubungan dengan transportasi yang pintar?

Maka seperti yang dikemukakan oleh [Yang07], riset menuju transportasi
pintar membutuhkan studi antar-disiplin untuk membicarakan solusi yang
ditinjau dari faktor teknis dan sosial. Penerapan teknologi yang
berlangsung bertahap disertai dengan analisis sosial dan penyempurnaan
teknologi dapat menjadi kunci penerimaan masyarakat terhadap evolusi
berkendara tersebut.

Dalam penerimaan tersebut, pembuat keputusan dapat menimbang dengan
mudah mengenai masalah yang dapat timbul dan menetapkan regulasi wajar
untuk menopang transportasi pintar. Dengan regulasi yang tepat dan
penerimaan yang baik oleh masyarakat, investasi dalam transportasi
pintar menjadi sebuah solusi investasi yang diminati. Dengan masuknya
industri, maka penerapan teknologi ini dapat menjadi umum dan
terimplementasi dengan baik.

Dengan penggunaan yang benar dan tersosialisasi, teknologi dapat
mempertinggi kesadaran masyarakat dalam bertransportasi. Hal ini dapat
menurunkan angka kecelakaan dan mempermudah pengaturan lalu lintas.
Selain itu, penerapan teknologi ini dapat meningkatkan kualitas hidup
warga.

[SURA] http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2009-06-16/37255/Gawat!_Mur_dan_Lampu_Suramadu_Dicuri

No comments:

Post a Comment