Wednesday, November 11, 2009

[TDJarkom2009][Sesi2][0906593233-Muhammad Adi Sujiwo] want06, pears09

[category TDJarkom2009]
[title NamaMahasiswa (NPM) - want06, pears09]

= Komentar Paper : An Introduction to RFID Technology

Berawal dari perangkat spionase tersembunyi, RFID berkembang menjadi
produk yang mulai dapat diterima konsumer, meski masih terdapat banyak
ganjalan dalam adopsinya. Ganjalan tersebut di antaranya adalah tingkat
harga yang masih cukup tinggi, reliabilitas yang rendah dalam lingkungan
multi-interferensi, serta resistansi dari sejumlah pihak terkait ancaman
privasi dari penyebaran teknologi ini.
Secara umum, RFID adalah teknologi identifikasi dan pelacakan benda
menggunakan gelombang radio. Istilah RFID saat ini dibatasi untuk penanda
obyek yang bekerja secara pasif; yaitu yang bekerja tanpa menggunakan
tenaga listrik mandiri sehingga membutuhkan sumber energi luar untuk
memicu transmisi. Bentuk RFID sendiri berupa sebuah tag (penanda)
berbentuk lembaran kecil yang dapat ditempelkan pada barang yang akan
diidentifikasi, persis seperti penggunaan bar code yang sudah jamak kita
temui.
Salah satu tujuan awal penggunaan sistem RFID adalah pembacaan
barang-barang yang ada dalam sebuah supermarket, sehingga mempercepat
proses antrian di kasir. Di samping itu terdapat beberapa penggunaan lain,
seperti:
- Paspor elektronik
- Pelacakan aset dan produk
- Identifikasi dan pelacakan hewan. Di sini transponder RFID diimplantasi
pada tubuh hewan tersebut. Hal yang sama juga berlaku pada personil atau
manusia, di mana transponder dapat ditempelkan pada pakaian atau
diimplantasi pada tubuh.
- Telemetri, seperti pada pengamatan serangga yang ditempeli dengan RFID.
- Barang-barang yang ditempeli RFID khusus dengan fungsi sensor dapat
memberitahu konsumer atas batasan lingkungan di mana barang-barang
tersebut layak dipakai.
Salah satu faktor penghalang adopsi RFID adalah harga: jika biaya tag RFID
melebihi harga produk, sementara harga pembaca RFID masih cukup tinggi,
pemanufaktur produk mungkin akan berpikir dua kali untuk menempelkan
penanda RFID pada produknya. Saat ini harga tag mencapai Rp 960 (10 sen
dolar); sehingga pemanufaktur di Indonesia belum banyak menggunakan
teknologi ini.
Faktor lain yang menghalangi merebaknya RFID adalah kekhawatiran atas
ancaman pada privasi. Pemilik barang yang ditempeli RFID tidak selalu
mengetahui keberadaan RFID, sementara tag ini dapat dibaca pada jarak
cukup jauh. Ini memungkinkan pengumpulan data sensitif tanpa sepengetahuan
pemiliknya. Kekhawatiran lain adalah hilangnya hak asasi manusia pada
orang-orang yang mendapat implantasi RFID, karena dengan demikian
pihak-pihak yang berkompeten (misalnya pemerintah) akan selalu dapat
memantau pergerakan orang-orang ini.

= Komentar Paper : Smart Phone Interaction with Registered Displays

Bersama dengan proliferasi ponsel cerdas (smartphone), pengguna
menginginkan agar ponselnya dapat berinteraksi dengan benda-benda lain di
sekitarnya. Salah satunya adalah dengan layar monitor atau televisi
(display). Bentuk interaksi ini dapat berupa transfer data dari layar yang
menampilkan iklan atau pengumuman, atau ponsel yang menjadi perangkat
input untuk aktivitas yang dilakukan pada display besar.
Kunci interaksi ini adalah pemetaan geometris antara layar ponsel dengan
layar besar. Jika kedua layar ini dapat dipetakan, teknik-teknik interaksi
dapat dilakukan; di antaranya seperti ponsel sebagai alat manipulasi
sampai ponsel sebagai mouse 6 derajat kebebasan. Secara keseluruhan,
seluruh interaksi ini disebut sebagai teknologi display registration.
Teknologi ini membutuhkan dua komponen utama, yaitu jalur komunikasi
antara layar besar dan ponsel (berupa bluetooth), serta kamera ponsel.

No comments:

Post a Comment